Running Text

ADVOKASI HAJI DARI DAN UNTUK JAMAAH (KLIK DI SINI) PENINGKATAN LAYANAN HAJI 2017 BUKAN CERITA 'DONGENG' (KLIK DISINI) ABDUL DJAMIL, PEMIKIR CERDAS DAN TOKOH PERUBAHAN HAJI INDONESIA (KLIK DISINI) AFFAN RANGKUTI: SELAMAT DATANG JEMAAH HAJI INDONESIA SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-71, NKRI HARGA MATI” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “SELAMAT JALAN JEMAAH HAJI INDONESIA 2016 SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI REGULER TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) KEMENAG DAN DPR SEPAKATI BPIH 2016 TURUN 132 USD DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI KHUSUS TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) SELAMAT ATAS KEMENANGAN MUSA LA ODE ABU HANAFI YANG MERAIH JUARA KETIGA DALAM AJANG MUSABAQAH HIFZIL QURAN (MTQ) INTERNASIONAL DI MESIR SELAMAT ATAS LAHIRNYA CUCU PRESIDEN JOKO WIDODO DASAR HUKUM MENJERAT TRAVEL HAJI DAN UMRAH NAKAL (KLIK DISINI) POTENSI PDB INDUSTRI JASA UMRAH 16 TRILYUN RUPIAH PER TAHUN JOKOWI AJAK TWITTER SEBARKAN PESAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN MENAKAR INDUSTRI JASA HAJI DAN UMRAH NASIONAL DI ERA PASAR BEBAS ASEAN SELAMAT ATAS PELANTIKAN SOETRISNO BACHIR MENJADI KETUA KEIN KAPOLRI BERTEKAD PERANGI AKSI TEROR
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2017

Kabupaten Bogor Masih Berwajah 'Kusam'

Safari sosial Ade Whardana Adinata
Foto: facebook Ade Whardana Adinata
Bogor (WarkopPublik)--"Jadilah rakyat miskin disaat engkau menjabat, dan jadilah pejabat manakala engkau bertemu penjahat"

Kalimat ini sepertinya cocok untuk bupati Bogor mendatang. Sedikit meluangkan waktu mengikuti salah satu akun media sosial (medsos) salah satu calon Bupati Bogor. Ternyata banyak hal yang menarik dalam aktivitas dan safari sosialnya. Banyak temuan-temuan kemanusiaan dalam dimensi ekonomi dan sosial. Memang, medsos saat ini menjadi salah satu jendela informasi yang tidak bisa diabaikan bahkan justru diandalkan. Banyak riset terkait tentang itu.

Soal Kabupaten Bogor. Siapa sih yang mau untuk hidup miskin. Tak ada yang sudi untuk menjadi manusia yang minim kepintaran. Tak akan ada yang rela untuk menjadi manusia berpenyakit. Tak kan ada yang mau untuk hidup tanpa pekerjaan.

Pemetaan dan identifikasi masalah dinamika sosial ekonomi yang didapati membuat kita terperangah. Bahkan boleh jadi diprediksi ada fenomena gunung es yang menyelimuti kabupaten ini. Lebih kaget lagi disaat media menulis Bogor ”Surga” LGBT. Rasa kuatir, cemas, takut dan amarah pun muncul. Bagaimana tidak, namanya orang tua dipastikan akan cemas dengan kondisi ini.

Harga kehidupan sosial di Kabupaten Bogor boleh disebut terbilang mahal. Setiap waktu mata dan telinga orang tua digunakan dengan seksama dalam meradar pergaulan anak. Tak masalah dikatakan lebay, kepo atau sotoy (istilah anak terkini). Orang tua hanya memastikan bahwa anaknya jelas bergaul kemana dan dengan siapa.

Dimana pemerintah Kabupaten Bogor. Apakah pernah para pemangku jabatan ini berkala melakukan kajian, penelitian dalam menjawab dinamika dan persoalan sosial yang terjadi. Apakah karena mereka habis waktu dan energi karena berkutat pada masalah kemiskinan sebagai prioritas, sedang soal lainnya dikesampingkan. Sajian data dari salah satu media nasional menyebutkan bahwa Kabupaten Bogor menduduki posisi 10 daerah termiskin dari 27 kabupaten dan kota seprovinsi Jawa Barat. Angka penduduk miskin mencapai 8,92 persen dari jumlah penduduk mencapai 5,5 juta jiwa. Artinya 490 ribu orang lebih masyarakat kabupaten itu hidup miskin. 490 ribu orang berpotensi pada entitas lainnya seperti kesehatan, pendidikan, keamanan dll. Potensi itu bisa saja membentuk sikap dan kepribadian yang menyimpang.

Sudahlah rakyat miskin, pejabatnya saat aktif malah terbelit kasus korupsi. Mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan terkait suap alih fungsi lahan pada 7 Mei 2014 silam. Selain Yasin, lembaga anti rasuah itu juga menangkap Muhammad Zairin mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bogor. Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan juga sudah divonis kurungan penjara dan denda atas kejahatan yang dilakukan. Mereka divonis atas menerima suap senilai 4,5 miliar rupiah guna memuluskan rekomendasi surat tukar menukar kawasan hutan. Selain mereka berdua, divonis juga 'para juragan' dan mendekam dalam 'hotel prodeo', mereka adalah Yohan Yap dan Cahyadi Kumala.

Itu soal kemiskinan dan potensi dampak yang ditimbulkan. Bagaimana soal pendidikan. Ada satu sekolah di wilayah Parung bersemayam ajaran sesat di dalamnya. Herannya, saat kasus ini terkuak barulah ada investigatif bahwa sekolah itu belum memiliki izin dari dinas pendidikan Kabupaten Bogor. Di luar logika jawaban itu, mengapa. Pertama letak sekolah jelas di salah satu jalan lintas ramai Bogor Jakarta. Kedua, sekolah sudah memiliki dua rombongan belajar untuk setiap tingkatan. Untuk tingkat SMP baru ada kelas 7 dan kelas 8, sedangkan untuk tingkat SMA baru ada kelas 10 dan kelas 11. Ketiga, sudah beroperasi sekitar 1,5 tahun. Aneh bukan, tidak akan aneh jika melihatnya dalam dimensi 'kepentingan'.

Hal di atas masih sejumput dari sekeranjang persoalan lain yang masih menumpuk dan menjadikan Kabupaten Bogor berwajah 'kusam'. Bupati Bogor mendatang akan ditantang untuk mampu mengubah wajah itu menjadi 'ceria'. Ada keyakinan dan harapan besar yang akan memimpin nanti mampu melakukan itu di bumi Prayoga Tohaga Sayaga Kuta Udaya Wangsa, Bumi Tegar Beriman. (ar/ar)

Sabtu, 30 September 2017

Kalau Benar Info Itu, Maka Kau Perampas Hak Namanya

Sampul Film Penghianatan G 30 S PKI
Foto: cineme-xcinema.blogspot.com
Jakarta (WarkopPublik)--Ramai di media bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhajir Effendy melarang siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menonton Film Penghianatan G 30 S PKI. Film garapan sutradara Arifin C Noer itu dinilai bukan konsumsi anak-anak.

Bagai berbalas syair dan kata-kata indah menggugah, larangan ini disambut hangat oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mengapresiasi si Menteri atas pernyataannya itu. Menurut KPAI, tindakan tersebut sangat penting untuk melindungi anak-anak dari berbagai tayangan yang mengandung unsur kekerasan, sadistis dan pornografi.

Andai benarlah yang aku baca di media itu maka aku mengatakan ini kepada mereka:

Wahai Kau Bapak dan Ibu yang Mulia yang berbicara sangat berpendidikan, yang bicara sangat sayang tentang anak-anak. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu hal saja Wahai Paduka Bapak, Wahai Yang Mulia Ibu.

Lihatlah, tengoklah, berenglah, ketenlah sekeliling Kau saat ini. Kalau Kau sayang, kalau Kau cinta kepada anak-anak maka masih sangat banyak dan penting yang perlu Kau buat daripada Kau larang-larang Siswa SD dan SMP agar tak menonton film itu.

Tak ada hak Kau melarang-larang tentang itu. Tak ada hak Kau juga mewajibkan menonton tentang hal itu. Pilihan itu bukan Kau penentunya. Jangan ambil hak yang bukan Kau sebagai penentunya. Karena film itu bukan film terlarang. Kalau Kau mengambil hak yang semestinya bukan Kau penentunya maka sama saja Kau merampas namanya. Saat Kau paksakan kehendak atas sesuatu yang tidak salah secara hukum positif maka Kau akan meludah ke atas langit. Kau tak akan 'wangi' karena air ludah yang keluar itu pasti 'bauk'.

Jadi intinya adalah biarkanlah ada pilihan tak usah Kau paksa-paksa untuk melarang atau mewajibkan terkait tentang film itu. Aku saja tak pernah mau mewajibkan atau melarang film itu untuk ditonton oleh anak-anak ku. (ar/ar)

Rabu, 17 Agustus 2016

Cinta Merah Putih: Butuh 10 Menit Saja

Bendera Merah Putih
Jakarta (WarkopPublik)--Dulu era tahun 80-an, menjelang tibanya peringatan hari kemerdekaan hampir seluruh masyarakat senang dan gembira.

Tiap gang tidak pernah absen menghiasi dengan gapura dengan lukisan heroik perjuangan anak bangsa dalam merebut kemerdekaan. Cat merah putih adalah warna dominan dan tidak lupa dipuncak gapura bendera merah putih berkibar.

Bahkan merah putih menghiasi di atas jalan masuk dari mulut gang yang dijalin dengan tali lalu ditarik berliku dari sudut ke sudut. Bahkan setiap lapangan berdiri batang pohon pinang yang sudah dilumuri oli dengan beraneka hadiah yang sudah dipajang di atasnya.

Tak lupa, setiap rumah bendera merah putih berkibar, walau beragam ukuran dan malah warnapun ada yang sudah mulai memudar tanda sering dipakai.

Tak ada instruksi resmi agar masyarakat melakukan itu. Kesadaran masyarakat menjadi motor penggerak untuk membentuk panitia tujuhbelas agustusan. Dan sumbangan mengalir entah darimana saja datangnya, tak ada tarif hanya sukarela saja.

Malam, diramaikan dengan panggung hiburan kepahlawanan. Lomba syair perjuangan, pidato, dan lagu mars kepahlawanan. Siangnya, beraneka lomba dipersiapkan. Siapa saja boleh mengikuti tak memandang umur dan usia. Karena bukan juara yang dituju namun kemeriahan dan wujud rasa senang menyambut hari kemerdekaan.

Saat ini, situasi seperti itu sulit kita temukan. Bahkan parahnya tidak sedikit rumah tidak mengibarkan bendera merah putih ini. Mengapa bisa, apakah kita sudah sangat sibuk dengan urusan masing-masing atau kenapa?

Dulu, pernah salah satu pejabat tinggi di negara ini setiap hari senin membudayakan diri dan keluarga untuk upacara menaikkan bendera di halaman rumahnya. Suatu ketika, putri sang pejabat ini tidak mengikuti proses upacara penghormatan bendera. Sang pejabat marah, sedih bercampur baur. Lantas akhirnya memarahi putrinya sendiri. Tak senang dengan kemarahan itu, putrinya pun bertanya mengapa ayahnya sampai semarah itu.

Ayahnya pun menyampaikan bahwa saat dia berjuang dengan seluruh pejuang adalah hal yang sangat tidak mudah untuk mengibarkan bendera merah putih. Dapat mengibarkan bendera merah putih adalah sebuah kebanggaan walau dengan resiko tumpah darah, hilangnya nyawa, harta benda. Bangga agar bangsa ini memiliki jati diri yang tertanam dalam merah putih untuk lepas dari rantai belenggu penjajah.

Hanya butuh waktu tidak lebih dari 10 menit untuk mengibarkan bendera merah putih tanpa harus mengorbankan apapun. Inilah mengapa ayahnya sangat marah, dan putrinya pun tersadar.

Kisah ini menjadi penting bagi kita untuk mengembalikan rasa ketebalan cinta tanah air dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Tidak harus mengorbankan apapun. Hanya butuh tidak lebih dari 10 menit kita budayakan memberikan penghormatan kepada merah putih.

Sedikit saja luangkan waktu untuk khidmatkan jiwa dan sadar bahwa kita adalah generasi penerus bangsa dan bangsa ini butuh kita untuk mengisi ruang-ruang kemerdekaan tanpa mengharap imbal jasa apapun. Hanya butuh waktu 10 menit, setidaknya kita menghargai diri kita sendiri. Jika kita tidak menghargai diri kita sendiri lantas siapa yang akan menghargai kita nanti. (ar/ar)

Rabu, 18 Mei 2016

Lengkapi Data, PB Al Washliyah Akan Dorong Tokohnya Jadi Pahlawan Nasional

Para pendiri Al Washliyah
Foto: Doc Al Washliyah

Teheran (WarkopPublik)--Bagi Ormas Islam Al Washliyah Ismail Banda bukan hanya pendiri dan Ketua Umum Al Washliyah pertama. Bersama dengan Arsyad Thalib Lubis, Abdul Rahman Shihab dan tokoh lainnya mendirikan Al Washliyah pada 30 November 1930 di Medan Sumatera Utara, turut serta dalam melakukan pergerakan dalam perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan.

Beliau cerdas dalam berelasi politik dengan tokoh-tokoh negara lain. Ini menunjukkan bahwa beliau piawai berdiplomasi dengan berbagai pihak.

Disisi yang lain, bagi negara beliau adalah Panitia Pusat Kemerdekaan RI di Kairo. Ismail Banda dan Arsyad Thalib Lubis adalah dua tokoh Al Washliyah yang memiliki kesamaan visi bagi umat.

Data dan fakta tentang Ismail Banda perlahan sudah terkumpul. Kami bangga pernah memiliki pemimpin cerdas, amanah, bijaksana, dan disegani di dunia internasional.

Ismail Banda berangkat dari Bagdad Irak menuju Teheran Iran dengan pesawat Misrair bersama Dr Henry G Bennett Presiden Oklahoma State University  bersama 22 penumpang lainnya termasuk awak pesawat dalam menjalankan tugas khusus.

Pesawat yang membawanya itu jatuh di wilayah 19 mil atau 10 km sebelah barat Tehran. Jatuh disebabkan Snowstorm. London encyclopedi, mencatat hal ini. Pesawat jatuh pada tanggal 22 Desember 1951.

Pesawat Misrair yang jatuh adalah pesawat berjenis SNCASE Languedoc of Air France. Sebab juga ditulis di The Times (london), Monday 24 Dec 1951 (52192), col D, P.4.  Nama nama penumpang termasuk Ismail Banda diperoleh dari Indianapolys Star,  Desember 1951.

Pernah Ridwan Tanjung menulis tentang Ismail Banda yang gugur di Teheran, Iran ketika menjalankan tugas negara sebagai Kuasa Usaha (perwakilan) Negara Indonesia di Afganistan. Pesawat yang membawa beliau bersama pejabat-pejabat penting bangsa lain terjatuh dihantam badai topan di Teheran.

Data dan fakta serta dokumen penting akan terus disisir di internasional dan nasional termasuk dari buku Diplomasi Revolusi Indonesiandi Luar Negeri yang ditulis M Zein Hassan. M Zein Hassan sendiri merupakan salah satu tokoh Panitia Pusat Pergerakan Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia di Mesir dan Arab Saudi bersama Ismail Banda dan kawan-kawan.

Pemerintah RI pernah mengutus Muhammad Adnan menjadi Misi Haji dan Misi Diplomasi pertama ke Saudi Arabia bersama Sholeh Saudi, Syamsir, Ismail Banda dkk untuk mengadakan kontak dengan Raja Ibnu Saud dan pemimpin-pemimpin negara Islam yang sedang menjalankan ibadah haji, untuk merundingkan mendapat pengakuan Negara RI dan mengatur perjalanan haji yang pertama setelah Perang Dunia II.

Saat data dan fakta semakin banyak maka akan segera diusulkan agar Ismail Banda dan Arsyad Thalib Lubis menjadi Pahlawan Nasional kepada pemerintah Indonesia.

"Pengurus Besar Ormas Islam  Al Washliyah mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada Pak Octavian Alimudin sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Islam Iran merangkap Turkmenistan, berkedudukan di Teheran dalam membantu kami," kata KH Dr Yusnar Yusuf melalui rilis tertulisnya dari Teheran Iran, Minggu (15/05/2016).

Lanjut KH Yusnar, pihak kedutaan baru tahu setelah diberi data. Mencarinya lebih mudah karena makam di Tehran hanya satu lokasi saja. Dibelakang Mesjid Imam Khomaini.

"Mohon doanya, agar data dan fakta ini semakin lengkap dan Ormas Islam Al Washliyah dapat mengusulkan tokoh pendiri untuk menjadi Pahlawan Nasional," tutup KH Yusnar. (rilis pb al washliyah/ar)

Senin, 18 April 2016

Jokowi Puji Hafiz Cilik Musa Raih Juara Tiga Hafiz Quran Internasional di Mesir

Musa (dua dari kanan) telah mengharumkan nama Indonesia
dalam ajang perlombaan Musabaqah Hifzil Quran (MHQ)
 Internasional Sharm El Sheikh, di Mesir.
Foto: FACEBOOK/La Ode Abu Hanifa

Jakarta (WarkopPublik)--Presiden Jokowi mengungkapkan rasa bangga terhadap prestasi yang diraih Musa La Ode Abu Hanafi yang meraih juara ketiga dalam ajang Musabaqah Hifzil Quran (MTQ) Internasional di Mesir, baru-baru ini.

"Kita bangga dg prestasi Musa La Ode Abu Hanafi, hafidz 7 tahun di Musabaqah Hifzil Quran Internasional di Mesir -Jkw," tulis jokowi melalui akun twitter pribadinya.

Tweet Jokowi tersebut telah diunggah hari ini Minggu (17/04/16) dan telah disukai lebih dari 2.145 dan dibagikan lebih dari 2.294 oleh kalangan netizen.

Beragam komentar juga disampaikan oleh netizen salah satunya seperti disampaikan pemilik akun @agnie_onlineshop yang menulis

"@jokowi terlebih dia memakai batik pak *membanggakan sekali," tulisnya.

Seperti diketahui bocah laki-laki berusia 7 tahun ini, ia telah mengharumkan nama Indonesia dalam ajang perlombaan Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional Sharm El Sheikh, di Mesir.

Bocah tersebut ialah Musa La Ode Abu Hanafi berusia 7 tahun asal Indonesia yang telah menorehkan prestasi dengan menjuarai peringkat ketiga dalam kategori hafalan Alquran 30 Juz untuk anak-anak dalam perlombaan Internasional yang berlangsung di Mesir.

"Musa telah membuat bangsa lain mencintai Indonesia," ungkap Lauti Nia Sutedja selaku koordinator pendidikan, sosial dan fungsi budaya di Kedutaan Besar Indonesia di Kairo, Mesir dalam siaran pers, dikutip melalui situs hawzahnews.

Dalam perlombaan tersebut diikuti oleh 80 peserta Internasional dari 60 negara seperti Mesir, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Algeria, Mauritania, Yemen, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina dan Indonesia.

Musa merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang mengikuti kompetisi tersebut dan menjadi peserta paling muda diantara peserta lainnya yang berusia 10 tahun ke atas.

Walaupun hanya menempati peringkat ketiga, Musa asal Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung telah mampu membaca Alquran dengan sangat tepat di usianya yang masih muda. (bangka.tribunnews.com/ar)

Jumat, 25 Maret 2016

Bahasa Gaul Medan Akan Menjadi Bahasa Daerah?

Ilustrasi bahasa gaul anak Medan
Jakarta (WarkopPublik)--Bahasa gaul anak Medan dibakukan menjadi salah satu bahasa daerah, mungkinkah. Bahasa gaul yang satu ini merupakan perpaduan beberapa bahasa daerah dan para penggunanya pun sama, dari beberapa suku yang menetap di wilayah Medan.

Banyak yang tidak memahami saat anak Medan berkomunikasi dengan orang lain di luar dari wilayahnya, apalagi ketika anak Medan tersebut merantau dan menetap di wilayah lain. Hingga arti bahasa yang disampaikan mengalami penyumbatan arti bagi orang yang mendengarnya dan komunikasipun terjeda karena butuh pengolahan apa arti kata yang disampaikan.

"Banyak yang tertarik dengan keunikan bahasa ini, dan tidak sedikit yang menjadikan beberapa kata dalam bahasa gaul anak Medan ini sebagai jargon. Artinya, proses sosialisasi alamiah terjadi. Banyak tokoh nasional yang mengambil beberapa kata atau pun hanya sekedar cengkoknya saja," kata salah satu tokoh pemuda asal Medan Affan Rangkuti melalui pesan tertulisnya, Jumat (25/03/2016).

lanjut salah satu Pengurus Besar Ormas Islam Al Washliyah ini lagi, ada nilai dan hal spesifik dalam menyikapi bahasa gaul anak Medan. Secara tekanan kata dan intonasi (cengkok), dapat menyentak lawan bicara. Namun ketika lawan bicara tahu maknanya maka ia pun akan tersenyum.

Tidak hanya tersenyum adakalanya ia juga takut. "Banyak kali cengkunek ko kutengok", "Kolok sor kali ko, jumpa di tengah kita", "Pelan-pelanlah jalannya nanti kepater motor kita, setiur motor kita baling ini" dan lainnya. Bahasa gaul anak Medan itu mengakar baik di wilayahnya maupun ketika anak Medan menetap di wilayah lain.

"Boleh jadi ke depan bahasa ini akan dibakukan menjadi salah satu bahasa daerah di Nusantara. Kita tunggu saja saatnya, terjadi atau tidak. Karena DPD RI sudah mengusulkan RUU tentang bahasa daerah pada medio 2015 lalu. Bagaimana progresnya belum terdengar hingga sekarang. Prinsipnya usulan itu baik karena adanya upaya pembinaan bahasa daerah agar tidak punah ," kata Affan yang juga salah satu pejabat di Kementerian Agama Pusat ini. (rilis/ar)

Selasa, 15 Maret 2016

Lukisan Presiden Jokowi Karya Seniman Difabel


 Foto: Beritasatu.com/Markus Junianto Sihaloho
Jakarta  (WarkopPublik)--Senyum Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengembang di dalam lukisan hasil karya penyandang disabilitas Maghrur 'Art' Rodhi. Kreasi itu langsung ditunjukkannya pada peserta pameran yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/03/2016).

Ketua DPR Ade Komarudin, tertarik pada lukisan itu, dilihatnya dalam-dalam. Tak lama kemudian, dia berpaling kepada Maghrur.

"Ini berapa harganya mas?"

"Dua setengah juta rupiah pak," jawab Maghrur.

Tanpa ragu, Akom langsung sepakat untuk membelinya. Wartawan lalu bertanya kepada Akom, mengapa dia berniat sekali membeli lukisan itu.

Akom lalu diam sejenak, kemudian menjawab bahwa dirinya ingin menghadiahkan lukisan itu kepada sang presiden. Apalagi, sang presiden baru saja mendapat anugerah besar dengan lahirnya sang cucu pertama, Jan Ethes Srinarendra.

"Untuk cucu Pak Jokowi," kata Akom, sapaan akrab Ade.

Jokowi memang baru mendapatkan cucu pertama pada 10 Maret 2016 lalu, dari pasangan anak pertamanya Gibran dan menantu Selvi.

Acara pameran itu sendiri dilaksanakan di sela-sela seminar panel mengenai RUU Disabilitas, yang sudah diajukan DPR RI masuk ke dalam Prolegnas Prioritas 2016.

Menurut Akom, dirinya mendorong pelaksanaan kegiatan itu demi peningkatan kesetaraan sekaligus mendorong RUU Disabilitas segera diselesaikan. Dan gayung bersambut, kata Akom. Pemerintah dan DPR saat ini sudah cukup sependapat soal draf RUU Penyandang Disabilitas.

"Oleh karena itu, melalui kegiatan diskusi panel dan pameran lukisan disabilitas yang diprakarsai DPR, seperti tak henti-hentinya terus mendorong pemerintah untuk segera menindaklanjuti RUU Disabilitas yang diinisiasi DPR," kata Akom.

‎Sejumlah pelukis difabel ikut serta dalam ajang pameran itu. Mereka tergabung dalam Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMPFA). Beberapa nama seniman tersebut ialah Faisal Rusdi, Muhammad Amanatullah, Salim Harama, Agus Yusuf, Maghrur "Art" Rodhi, Sayang Bangun. Ditambah dua pelukis di luar anggota AMFA yaitu Wibowo dan Totok.

Senada dengan Ade, Sekjen DPR Winantuningtyastiti menjelaskan bahwa RUU penyandang disabilitas ini adalah pengganti UU Nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Karena UU tersebut lebih berparadigma pada soal pelayanan dan belas kasih.

"Sedangkan penyandang disabilitas berparadigma pemenuhan hak penyandang disabilitas, baik hak ekonomi, politik, sosial, maupun budaya," kata Winantuningtyastiti.

Sekjen DPR menekankan bahwa RUU disabilitas mengakomodir beberapa isu krusial yang selama ini menjadi masukan dari penyandang disabilitas. Seperti soal kuota ketenagakerjaan dan bab larangan serta sanksi bagi para pelanggar hak disabilitas.

Winantuningtyastiti berharap agar pameran lukisan penyandang disabilitas ini menjadi bola salju yang akan menggelinding dengan dorongan yang semakin besar, sehingga perjalanan RUU ini menjadi Undang-undang yang dinanti para penyandang disabilitas bisa menjadi kenyataan dan lebih cepat terlaksana. (beritasatu/ar)

Dokter Ganteng ini Jadi Idola PSK

Dokter Tri Kusumo Bawono melakukan pelayanan kesehatan
untuk PSK di Pasar Kembang (Sarkem) Yogyakarta
sejak tahun 2004. Foto: KOMPAS.COM/WIJAYA KUSUMA
Yogyakarta (WarkopPublik)--"Dokter idola", itulah sebutan yang diberikan para pekerja seks komersial (PSK) di Sarkem (Pasar Kembang), Yogyakarta, kepada Tri Kusumo Bawono.

Dokter yang sejak 2004 menangani kesehatan warga di wilayah Sosrowijayan ini dikenal sebagai sosok yang humoris dan ramah sehingga cepat dekat dengan warga, tokoh masyarakat, dan para PSK yang ada di Sarkem. Sebutan dokter idola juga disematkan karena warga terkesan dengan pria berparas ganteng ini.

Tri merupakan lulusan Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 2003. Pada tahun 2004, pria kelahiran 6 Juli 1972 ini lantas menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Gedongtengen, Kota Yogyakarta.

"Saya masuk kuliah angkatan pertama di Kedokteran UMY. Tahun 2003 lulus, lalu 2004 jadi PTT di sini (Puskesmas Gedongtengen)," ujar Tri saat ditemui Kompas.com seusai acara dialog dengan PSK Sarkem di Balai RW 03 Sosrowijayan Kulon, Senin (15/03/2016).

Pada awal tugas menjadi dokter PTT, Tri mendapat tugas mengikuti pertemuan dengan pihak pengelola, LSM, keamanan dan para tokoh yang ada di wilayah Pasar Kembang. Pertemuan itu diadakan setelah terdata ada sekitar 13 kasus HIV ditemukan di Pasar Kembang.

Pada pertemuan itulah, dia pertama kalinya menginjakkan kaki di Sarkem dan berkenalan dengan para tokoh yang ada. Dari pertemuan itu, Tri dan rekan-rekannya membentuk klinik pelayanan khusus di Sarkem.

"Saya dan beberapa teman mendapat pelatihan, lalu kami disini mendirikan klinik tes HIV dan rehab napza," ucapnya.

Kerap ditolak

Awalnya, Tri mengaku sempat pesimistis mampu memberikan edukasi mengenai HIV/AIDS dan upaya pencegahannya kepada warga serta para PSK. Pasalnya, semua orang tahu bahwa wilayah Sarkem dicap negatif dan disebut-sebut sebagai "daerah hitam".


"Ya awalnya memang saya berpikiran ini pasti sulit. Kan salah satu wilayah pelayanannya di Sarkem, semua tahu seperti apa Sarkem saat itu," katanya.

Dia bercerita, kekhawatirannya itu memang terjadi. Dia dan timnya sering mendapat penolakan ketika ingin mengedukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada para pekerja seks komersial (PSK).

"Wah tantangan pasti ada, dulu pertama-tama di sini ya ada penolakan," tuturnya.

Namun, penolakan demi penolakan yang dialaminya tak lantas membuatnya berhenti. Apa yang dialaminya justru menjadi pelecut untuk bisa diterima, apalagi tanggung jawab sebagai pelayan kesehatan merupakan panggilan hidup.

"Bagaimanapun mereka (PSK) juga manusia yang butuh pelayanan kesehatan seperti lainnya. Memberikan pelayanan adalah tanggung jawab kami. Jadi, saya tetap berusaha agar bisa diterima," ujarnya.

Secara perlahan, lewat pendekatan personal, Tri berhasil merangkul tokoh-tokoh masyarakat. Seiring berjalannya waktu, dokter yang sejak tahun 2009 menjadi Kepala Puskesmas Gedongtengen ini dapat dekat dengan warga, termasuk dengan para PSK di Sarkem.

"Guyon yang lucu itu sudah kebiasaan sejak dulu, ya itu salah satu yang saya terapkan agar bisa dekat, dibantu tokoh masyarakat dan pemerintah desa juga," urainya.

Setelah merangkul warga dan para PSK, Tri bersama tim kesehatan Puskesmas Gedongkuning secara rutin memberikan pemahaman tentang HIV/AIDS dan pencegahannya serta tes darah. Edukasi dan tes darah itu dilakukan dengan mendatangi satu per satu losmen di wilayah Sosrowijayan.

"Di sini kita bicara soal pencegahannya, kita berikan konseling komunikasi dan edukasi. Kita melakukan pemeriksaan tidak hanya di sini, tetapi juga di rutan dan lapas," kata Tri.

Di Sarkem, lanjutnya, telah ada kesepakatan bahwa setiap tamu atau PSK harus menggunakan kondom. Jika melanggar, tamu atau PSK itu akan dikenakan denda. Kesepakatan ini disahkan pada tahun 2012 lalu.

Selain itu, agar orang yang terkena HIV tidak putus asa, dia selalu memberikan pendampingan psikologis dan teman sebaya. Selain itu, para penderita HIV juga didatangkan untuk menjadi pembicara agar bisa berbagi pengalaman.

"Kita ada pendampingan psikologis. Teman-teman yang terkena HIV kita ajak untuk memberikan testimoni, sharing, dan hasilnya sangat efektif," katanya.

Sampai sejauh ini, berkat pendampingan, banyak PSK Sarkem yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan mereka, misalnya dengan rutin memeriksakan kesehatan dan menjalankan kesepakatan dengan mengenakan kondom.

Sering digoda

Selama memberikan pelayanan kesehatan di Sarkem, Tri tak luput dari peristiwa menggelikan. Tak jarang dia digoda para PSK yang mangkal di Pasar Kembang, terutama yang belum mengenalnya. Suatu kali, dia pernah tiba-tiba ditarik masuk ke dalam losmen.

"Pernah ditarik, lalu diajak duduk, diapit, saya diam saja. Setelah yang 'lama-lama' (lebih senior) berteriak, 'eh itu Pak Dokter lho', baru mereka tahu," ujarnya sambil tertawa.

Untuk menjalani tugas pelayanannya di Sarkem, dia sering diingatkan oleh istrinya agar bisa menjaga diri dan bekerja secara profesional. Pesan itu pun diaplikasikannya dengan tetap menjaga jarak.

"Kalau yang menggoda itu pasti yang baru, yang belum tahu. Kuncinya ya tetap menjaga jarak dan ingat yang di rumah," tuturnya. (tribun/ar)

Kamis, 25 Februari 2016

Kemenag Dikritik Tokoh Pemuda Wilayah Indonesia Timur

Jakarta (WarkopPublik)--Rencana Kementerian Agama membangun Universitas Islam Internasional di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat menuai kritikan tajam dari masyarakat. Disinyalir, proyek itu tidak mencerminkan pemerataan pembangunan pendidikan di Indonesia. “Kenapa harus dipaksakan di Cimanggis, Depok. Kenapa tidak dibangun di kawasan Indonesia Timur. Misalnya di Pulau Key, Maluku Tenggara. Itu kan lebih baik,” tutur Abdurrahman Ismail, Tokoh Pemuda Indonesia Timur ini kepada Bisnis Syariah di Jakarta, Kamis pagi, (25/02/2016).

Padahal, kata dia, di sana sudah banyak kampus ternama berdiri. “Di sana ada Universitas Indonesia. Terus di Ciputat sudah ada UIN Syarif Hidayatullah, kemudian di Jakarta ada UNJ, kan lebih baik proyek itu dibangun di Pulau Key, Maluku Tenggara. Dari sisi tanah, pemerintah daerah pasti akan berupaya menyediakannya. Dan, kami sebagai pemuda, akan merasa senang sekali jika ada kampus internasional berdiri di daerah kami,” tutur pria kelahiran Pulau Key, Maluku Tenggara ini lagi.

Selain itu, dampak ekonomi dari berdirinya kampus itu, bisa langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. “Jadi, pemerataan pendidikan yang didengung-dengungkan Presiden Jokowi terwujud. Kalau ini dibuat di Depok, maka sama saja menentang kebijakan Presiden Jokowi tentang pemerataan pendidikan di kawasan Indonesia Timur dan pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga,” pungkasnya lagi. (rio/ar)

Senin, 01 Februari 2016

Ini Hasil Rekomendasi Rakernas Al Washliyah

Bogor (WarkopPublik)--Ormas Islam Al Jami'yatul Washliyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Turut dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua MPR Zulkifli Hasan, Rakernas Al Washliyah merumuskan sejumlah rekomendasi.

Ketua Panitia Pelaksana Rakernas Al Washliyah, Ahmad Doli Kurnia, menuturkan rekomendasi pertama dari Rakernas Al Washliyah, adalah menolak rencana pembentukan Badan Penyelenggara Haji. Al Washliyah melihat, tidak ada kondisi yang mendesak pembentukan dan penyelenggaraan haji, serta pengelolaan haji Kementerian Agama sepanjang sejarah sudah cukup baik.

Selain menolak rencana pembentukan Badan Penyelenggara Haji, Doli mengatakan Al Washliyah mendorong dilakukannya perubahan revisi Undang-undang Perbankan Syariah. Al Washliyah berpendapat revisi UU Perbankan Syariah, akan senantiasa memberikan manfaat yang signifikan kepada Indonesia secara umum, serta umat Muslim di Indonesia khususnya.

Terakhir, Doli menerangkan Rakernas Al Washliyah hendak membangun kebersamaan dengan berbagai kalangan umat Muslim, khususnya ormas-ormas Islam yang yang ada di Indonesia. Menurut Doli, hal itu dimaksudkan untuk menangkal paham-paham radikalisme dan terorisme, serta membersihkan wajah Islam yang selama ini seakan terus ditempelkan dengan kesan negatif.

"Al Washliyah ingin menunjukkan wajah Islam sebenarnya, yang sejuk dan penuh toleran," kata Doli di lokasi rakernas Al Washliyah Wisama DPR Cisarua Bogor, Minggu (31/01/2016). (republika/ar)

Senin, 25 Januari 2016

Perkuat Kinerja Guru, Bupati Klungkung Luncurkan Website dan Jurnal Ilmiah

Semarapura (WarkopPublik)--Bupati Klungkung, Bali I Nyoman Suwirta meluncurkan website dan jurnal ilmiah pendidikan (JIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di balai budaya setempat.

"Dengan diluncurkan website, diharapkan guru-guru lebih sering update karena sangat bermanfaat sebagai media informasi," kata Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Senin (25/01/2016).

Dia melanjutkan, dengan peluncuran website mudah-mudahan apa yang diperbuat guru-guru di Klungkung bisa bermanfaat dan dikenal seluruh Indonesia. Harapan lainnya, agar guru-guru mampu membuat inovasi, berkreasi dan memahami tiga tugas guru, yakni mengajar, melatih dan mendidik, demi meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Klungkung.

Terkait dengan JIP, merupakan satu kesatuan dari program peluncuran website. JIP bisa diketahui oleh semua guru dalam membuat karya-karya ilmiahnya, yang belum pernah diketahui oleh orang lain, dan bisa dipelajari lewat website ini.

Peluncuran website dilakukan demi menunjang kebutuhan proses belajar mengajar dan meningkatkan pemahaman terhadap teknologi informasi di kalangan guru-guru di Kabupaten Klungkung.

Sementara itu, Ketua PGRI Klungkung Dewa Gede Darmawan menyampaikan bahwa kini diusianya yang ke-70 tahun, PGRI meluncurkan website dan JIP di Kabupaten Klungkung, dengan tema "Guru Mulia karena Karya" sebagai hasil renungan mengimpelementasikan Program Kreasi Inovasi dan Program Komunikasi. Program ini berlandaskan kebersamaan demi terwujudnya guru yang kreatif, inovatif dan kompetitif.

PGRI sebagai wadah dari pembentukan dunia pendidikan dan sebuah tempat yang sarat rasionalisme, ketulusan hati, itikad diri yang baik serta pengorbanan yang tulus dalam meningkatkan mutu pendidikan.

"PGRI juga sebagai tempat pengibaran panji-panji kemuliaan, keunggulan dan kemenangan interaksi keilmuan, keahlian dan moralitas antara orang dewasa berpengalaman dengan sekelompok muda usia," ucap Darmawan. (republika/ar)

Minggu, 24 Januari 2016

Mau Dapat Paket Internet Murah, Ini Tipsnya

Jakarta (WarkopPublik)--Kebutuhan internet di era sekarang sudah seperti kebutuhan pokok. Derasnya arus informasi menjadi hal penting dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Ini membuat para penyedia jasa internet berlomba-lomba dalam memberikan paket internet mereka mulai dari yang termahal hingga yang termurah.

Telkomsel merupakan salah satu dari sekian banyak penyedia jasa internet yang memberikan paket internet murah.

Ini tips dan saran agar kalian tetap bisa menikmati paket internet termurah yang ditawarkan oleh pihak Telkomsel, namun sebelumnya kalian perlu mengaktivasikan operator kalian, dan berikut cara-cara aktivasinya di bawah ini:

1. Siapkan perdana Simpati atau AS (yang penting Telkomsel) yang sesuai dengan daerah dimana kalian berada.
2. Tekan pada tombol dial pada *550*8# atau*550*300#. Kami sarankan menggunakan pilihan pertama karena paket kuota yang ditawarkan lebih murah dibandingkan pilihan yang kedua
3. Pilihlah paket sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kalian dengan masa aktif yang bervariasi mulai dari 1 bulan hingga 3 bulan
4. Tunggu beberapa saat hingga mendapat konfirmasi melalui SMS. Namun jika isi dari SMS tersebut adalah “Maaf, anda tidak dapat menikmati paket ini karena Nomor Anda beum Terdaftar” maka kalian bisa membalasnya dengan “FLASH YA”.

Jika cara diatas tidak berhasil kalian bisa menggunakan Simpati Loop atau Loop (wajib) dan mendaftarkan paket promonya dengan menekan*567**1*1# maka kalian akan langsung mendapatkan kuota sebesar 2GB dengan pulsa 20 ribu rupiah. Atau kalian bisa melakukan dengan menekan lewat USSD dengan menekan *567*3*1*1*2*1# dan kalian akan mendapatkan kuota lebih banyak lagi yaitu sebesar 6GB dengan harga 30 ribu rupiah. Semua tergantung pilihan dan keiginan kalian. (cetekno/ar)

Jumat, 22 Januari 2016

Ternyata Wartawan Indonesia yang Lulus Uji Kompetisi Baru Mencapai 18 Persen

Jakarta (WarkopPublik)--Kritisi konstruktif Menko PMK Puan Maharani mendapat tanggapan serius dari Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2016, Teguh Santosa.

Dia menanggapi, bahwa upaya meningkatkan kualitas jurnalisme yang lebih baik, hal tersebut juga merupakan salah satu perhatian utama komponen pendukung dan Panitia HPN 2016.

“Memang dari sekitar 80 ribu wartawan di Indonesia, baru sekitar 14 ribu yang sudah mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan lulus.

“Kondisi yang Ibu Menko sampaikan menjadi perhatian kami. HPN 2016 seperti sebelum-sebelumnya juga dimaksudkan sebagai kesempatan bagi masyarakat pers Indonesia mengevaluasi diri dan memperkuat komitmen meningkatkan kompetensi,” ujar Teguh.

Dia menambahkan bahwa salah satu diskusi yang akan digelar di arena HPN 2016 bertema “Revolusi Mental Pers Indonesia Menuju Pers Profesional dan Sejahtera”.

Panitia HPN 2016 berharap Puan Maharani berkenan menjadi pembicara utama dalam diskusi tersebut.

Sementara Ketua Bidang Konvensi HPN 2016, Chelsia Chan, mengatakan bahwa masyarakat pers Indonesia memiliki perhatian yang besar terhadap peningkatan mutu wartawan dan kualitas jurnalistik yang dihasilkan.

Chelsie menyebutkan, sejak beberapa tahun terakhir ini, berbagai organisasi profesi dan lembaga pendidikan bekerja keras menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan.

Organisasi dan lembaga pendidikan ini telah diverifikasi Dewan Pers untuk menyelenggarakan uji kompetensi.

“Memang dari sekitar 80 ribu wartawan di Indonesia, baru sekitar 14 ribu yang sudah mengikuti uji kompetensi dan dinyatakan lulus. Ini pekerjaan besar untuk kita semua,” ujar Chelsia Chan.

Adapun Wakil Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Kiki Iswara, yang juga ikut dalam pertemuan mengundang Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk ikut bekerjasama dengan Sekolah Jurnalisme Indonesia dan Sekolah Jurnalisme ASEAN dalam meningkatkan mutu karya jurnalistik. (pemi/ar)

Puan Maharani: Bisa Celaka Negara Bila Pemberitaan Kedepankan Heboh Saja

Jakarta (WarkopPublik)--Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani tegas dan berani menyatakan kepada kalangan pers agar merevolusi mental para insan pers di Tanah Air.

“Kebebasan dan kemerdekaan pers merupakan syarat utama sebuah negara demokratis. Namun demikian, akan berantakan agenda demokrasi dan akan celaka sebuah negara apabila kemerdekaan pers diartikan sebagai kebebasan tanpa batas,” ungkap Menko PMK, Puan Maharani, melalui siaran pers dari Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2016, dalam pertemuan di Kantor Menko Puan Maharani di Jakarta, Kamis pagi (21/01/2016).

Putri Megawati Soekarnoputri mengatakan, yang paling sering menjadi korban dari pemberitaan yang keliru adalah keluarga.

“Saya melihat sendiri di lingkungan yang dekat dengan saya bagaimana berita yang mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalisme menghancurkan kehidupan seseorang dan keluarganya. Keluarga yang sering kali jadi korban dari pemberitaan yang hanya mengedepankan heboh dan tidak didasarkan pada fakta yang jelas, atau politisasi” kata putri Megawati Soekarnoputri itu,” tuturnya.

Puan menambahkan, dalam pergaulan dengan jurnalis di lapangan, masih sering ditemukan jurnalis yang terlihat tidak menguasai persoalan dan asal mengajukan pertanyaan.

Tanpa bermaksud mengecilkan upaya jurnalis menjalankan profesi, seharusnya perusahaan media memberikan perhatian ekstra terhadap kompetensi jurnalis yang diturunkan ke lapangan.

Memang ada benarnya pernyatan keras putri mantan Presiden Megawati Sukarnoputri itu. Bahwa pers harus jujur dan obyektif. Itu mungkin bagian dari traumatik keluarganya sejak orde baru, di mana keturunan Bung Karno, presiden pertama Indonesia terkurung dalam keranda politik almarhum Presiden Soeharto, 32 tahun lamanya. (pemi/ar)

Rabu, 20 Januari 2016

Bagus Prasetyo: Dokter Terapi Musik Nusantara

Jakarta (WarkopPublik)--Teresa Lesiuk PhD asisten profesor terapi musik dari Universitas Miami menyatakan manusia adalah makhluk yang menyukai musik.

Nada-nada yang diatur indah dalam sebuah musik memiliki efek yang besar bagi kita. Harmoni suara ini bisa menjadi media penyembuhan, mengusir kecemasan, menenangkan, hingga mendongkrak semangat.

Pada era keemasan Islam, musik tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti saat itu Abu Yusuf Yaqub ibnu Isaq al-Kindi (801-873  M) dan  al-Farabi (872-950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.

Era globalisasi ini dimana manusia niscaya terbawa arus 'sakit' maka tak salah jika revolusi mental yang digadang-gadang pemerintahan Jokowi-JK memiliki arti yang luas dalam memotivasi lebih berkinerja. Tujuannya jelas untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam setiap sendi-sendi pelayanan masyarakat.

Sejak 2015 seorang motivator muda, Bagus Prasetyo mengembangkan media untuk memotivasi dan mendongkrak semangat kemajuan manusia melalui musik. Metode itu diberi nama Rythm of Empowerment (RoE), sebuah pengembangan metode pembelajaran yang unik dan pertama kali diterapkan di Indonesia, bahkan konon di dunia ini, ternyata mampu membuka rahasia, bagaimana melejitkan potensi diri dalam setiap individu manusia melalui filosofi dan permainan musik, gerak dan lantunan musik itu sendiri.

”Saya pernah dengar konsep ini dan sempat mengikutinya. Dampaknya luar biasa. RoE mampu memotivasi setiap potensi yang ada dalam diri kita, yang sebelumnya kita sendiri, belum mengetahuinya. Salah satunya, yakni meningkatnya rasa percaya diri kita dan mampu secara cepat, cerdas dan jernih menelaah setiap permasalahan yang ada di sekitar kita,” tukas Heri pegawai negeri yang bertugas di salah satu Kementerian itu kepada Bisnis Syariah di Jakarta, Rabu sore (20/01/2016).

Lanjut dia, konsep itu dibangun dan dikembangkan Bagus Prasetyo dan sudah dimplementasikan kepada beberapa kementerian dan perusahaan. “Banyak perubahan yang ada sejak konsep dan metode ini diterapkan. Dan, setelah saya rasakan, ternyata ini sangat cocok diterapkan di institusi pemerintah seperti Kementerian dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” saran pria yang tinggal di Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat, ini lagi. (rio/ar)

Selasa, 19 Januari 2016

Inggris Luncurkan Program ‘Pendidikan Melawan Kebencian’


Jakarta (WarkopPublik)--Kementerian Pendidikan Inggris segera meluncurkan program pendidikan bertujuan untuk melindungi kaum muda Inggris dari "ideologi terselubung."

Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Pendidikan Nicky Morgan. Ia menyampaikan hal tersebut di Bethnal Green Academy, di sebelah timur London, dimana empat siswi mereka tahun lalu kabur ke Suriah.

Program ‘Pendidikan Melawan Kebencian’ menawarkan orangtua dan guru cara melindungi anak-anak mereka dari bahaya ekstremisme di dalam dan di luar sekolah.

Dikutip dari Sputnik, 19 Januari 2016, Morgan juga berjanji untuk melakukan investigasi lebih serius pada setiap sekolah yang tak terdata dan mendata setiap anak yang menghilang dari sekolah.

Program ini diluncurkan atas permintaan pemerintah Inggris tahun lalu. Pemerintah Inggris meminta semua sekolah memperkuat langkah-langkah untuk melindungi anak-anak dari bahaya internet, termasuk radikalisasi,  setelah kekhawatiran bahwa anak-anak yang melakukan perjalanan atau mencoba untuk melakukan perjalanan ke Suriah diketahui mampu mengakses dari komputer sekolah. (Viva/ar)

Senin, 18 Januari 2016

Tangkal Radikalisme Dengan Memperkuat Pendidikan Agama dan Moral


Manado (KabarPublik)--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara KH Abdul Wahab Abdul Gafur mengatakan menangkal radikalisme dapat dilakukan dengan memperkuat pendidikan agama dan moral anak bangsa.

"Pendidikan agama harus dipertegas kembali begitupun dengan pendidikan moral bangsa tentang bagaimana rasa nasionalisme itu perlu ditingkatkan," kata kiai Abdul Wahab Abdul Gafur di Manado, Ahad (17/1).

Menurut dia, rasa cinta Tanah Air dan bangsa adalah bagian dari iman sehingga tidak boleh dipisahkan antara kecintaan terhadap bangsa ini dengan agama.

"Pendidikan seperti ini yang harus terus ditanamkan terutama kepada generasi muda, generasi bangsa Indonesia," kata kiai Abdul Wahab Abdul Gafur menerangkan.

Menurut dia, teroris bukan baru sekarang ini muncul, sehingga peran tokoh-tokoh agama adalah terus memberikan informasi dan membekali mereka agar tidak mudah terpengaruh.

"Kita bisa lihat sekarang ini bahwa yang direkrut adalah generasi muda. Ada yang mudah terpengaruh karena kurang mengerti tentang terorisme. Tapi ada juga yang paham, tapi ikut juga terpengaruh sesuai dengan tingkat pemahamannya," ujarnya.

Karena itu, dia berharap, pola pendidikan dan pembinaan mental spiritual yang dilakukan tokoh-tokoh agama dapat menjadi benteng yang kuat mencegah merasuknya radikalisme pada kaum muda.

"Kami juga berharap warga tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan kepada aparat berwajib apabila melihat gelagat-gelagat yang mencurigakan dari orang-orang yang tidak dikenal," ajaknya. (antara/ar)