Running Text

ADVOKASI HAJI DARI DAN UNTUK JAMAAH (KLIK DI SINI) PENINGKATAN LAYANAN HAJI 2017 BUKAN CERITA 'DONGENG' (KLIK DISINI) ABDUL DJAMIL, PEMIKIR CERDAS DAN TOKOH PERUBAHAN HAJI INDONESIA (KLIK DISINI) AFFAN RANGKUTI: SELAMAT DATANG JEMAAH HAJI INDONESIA SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-71, NKRI HARGA MATI” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “SELAMAT JALAN JEMAAH HAJI INDONESIA 2016 SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI REGULER TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) KEMENAG DAN DPR SEPAKATI BPIH 2016 TURUN 132 USD DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI KHUSUS TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) SELAMAT ATAS KEMENANGAN MUSA LA ODE ABU HANAFI YANG MERAIH JUARA KETIGA DALAM AJANG MUSABAQAH HIFZIL QURAN (MTQ) INTERNASIONAL DI MESIR SELAMAT ATAS LAHIRNYA CUCU PRESIDEN JOKO WIDODO DASAR HUKUM MENJERAT TRAVEL HAJI DAN UMRAH NAKAL (KLIK DISINI) POTENSI PDB INDUSTRI JASA UMRAH 16 TRILYUN RUPIAH PER TAHUN JOKOWI AJAK TWITTER SEBARKAN PESAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN MENAKAR INDUSTRI JASA HAJI DAN UMRAH NASIONAL DI ERA PASAR BEBAS ASEAN SELAMAT ATAS PELANTIKAN SOETRISNO BACHIR MENJADI KETUA KEIN KAPOLRI BERTEKAD PERANGI AKSI TEROR

Selasa, 31 Maret 2015

Menakar Nasionalisme Dengan Hati Nurani

Jakarta (WarkopPublik)--Film pendek yang berdurasi 2 menitan ini bercerita tentang perjalanan 3 teman terbaik melalui kebahagiaan dan kesulitan. Menyoroti keberagaman masyarakat Indonesia dari latar belakang etnis yang berbeda yang tumbuh bersama-sama dan membuktikan bahwa mereka adalah bersaudara. Film pendek ini mencoba menyentuh nurani bangsa ini pasca peristiwa Mei 1998, bahwa ada seni dan nurani dalam membangun sebuah peradaban untuk mencintai dan memiliki sebagai modal kuat dalam nasionalisme bangsa. Film ini juga mencoba untuk menyadarkan kita bahwa kita sudah memiliki modal itu, modal yang sudah terbangun sejak lama dan sebelum bangsa ini mampu menghadirkan dan mengibarkan Merah Putihnya dalam peradaban internasional.
https://www.youtube.com/watch?v=7sE475goLD8
Salam Muahasabah.


Nasionalisme Moneter Nasional Lewat Sebuah Syair Lagu


Lagu anak Aku Cinta Rupiah yang dinyanyikan oleh Cindy Cenora merupakan rasa bangga anak Indonesia terhadap mata uang negaranya di saat krisis yang popular di Tahun 1997. Lagu ini bukan merupakan Industri musik tanah air pada aspek margin, namun lebih cenderung memberikan pesan dan mencoba menggugah nurani rakyat Indonesia untuk penguatan sikap nasionalisme moneter nasional dan juga mengkritisi elit politik untuk hadir dan menjamin mata uang nasional itu berharga. Yah, anak kecil ini dengan polosnya melakukan itu rasa bangga pada dirinya bahwa dia merupakan bahagian dari nasionalisme moneter nasional lewat sebuah syair lagu. Bagaimana dengan Anda? Bagaimana dengan kondisi sekarang ini? Bahkan belanja ibadah saja (haji/umrah) bukan dengan rupiah namun dengan Dollar. https://www.youtube.com/watch?v=7ULiHS6XL7M 
(ar/ar)

Dollardaka, Perlu Cetak Biru Ketahanan Moneter Nasional

Jakarta (WarkopPublik)--Masih ingatkah bagaimana apresiasi cepat mata uang matahari terbit Yen  pada kisaran tahun 1995-an. Ledakan Yendaka ini mempengaruhi baik pada negaranya maupun negara lain yang memiliki hutang kepada negara Jepang ini. Setidaknya pengaruh buruk ini menjadikan masyarakat Jepang harus menaikkan kebutuhannya dan sektor-sektor industrinya mengalami kemunduran import dan ketidakstabilan neraca perdagangan. Bagi negara lain yang yang memiliki hutang kepada Jepang terpaksa harus menyesuaikan dan menjadikan hutangnya meninggi, termasuk hutang Indonesia kepada Jepang.

Secara teori, kenaikan suku bunga memang berpotensi menaikkan nilai tukar rupiah. Contoh empirisnya, Jepang pernah berhasil menurunkan nilai tukar yen, dari semula US$ l setara dengan 79 yen (1995) menjadi 126 sampai 131 yen (1998). Caranya, Bank of Japan menurunkan suku bunga diskonto (discount rate), yakni suku bunga yang diberikan bank sentral ke bank komersial, menjadi hanya satu persen. Dalam sejarah perekonomian Jepang, suku bunga itu merupakan yang terendah.
Dampaknya memang terbukti sangat efektif. Yen yang semula mengalami apresiasi (yendaka) segera terkoreksi menjadi depresiasi. Selanjutnya, dengan nilai tukar yang relatif murah, Jepang pun berhasil menaikkan ekspornya.

Apresiasi Dollar dalam beberapa bulan belakangan ini, berpengaruh buruk terhadap stabilitas moneter. Artinya, ketahanan moneter nasional tidak siap dengan apresiasi ini. Pendapat bahwa perekonomian negeri paman sam ini sedang membaik menjadi tesis akan ketidakberdayaan untuk melakukan perimbangan.

Sejarah Yendaka sangat penting untuk dijadikan analisa dan memaksa Amerika untuk menurunkan suku bunganya menjadi stabil. Bahkan bila perlu, para ulama melakukan ijitihad moneter untuk mengharamkan pemakain Dollar di tanah air. Paling tidak langkah ini merupakan himbauan agar Amerika menurunkan suku bunganya.

Sebenarnya, apresiasi ini bukan merupakan kebaikan, namun juga berdampak kepada industri-industri eksport Amerika pada negara lain yang menjadi merosot dan berdampak pada neraca perdaganngannya juga.

Pengalaman berharga masa lalu dan masa kini juga harus ditekankan bahwa dibutuhkan upaya serius atas kejadian serupa. Cetak biru ketahanan moneter nasional penting untuk dilakukan, jangan sampai berulangkali bangsa ini terperosok akibat apresiasi Dollar melalui Tappering The Fed.

Lihat saja jika the fed mengurangi stimulusnya maka nilai dollar akan menguat karena bank sentral amerika ecara efektif menerapkan kebijakan uang ketat, jika the fed meningkatkan stimulusnya maka nilai dollar akan menguat namun berpengaruh pada sektor industri dan perdagannya sendiri juga pada negara-negara berkembang akibat tersandera hutang. Artinya Paman sam mengalami makan buah simalakama, dimakan mati ayah tak dimakan mati ibu, dengan moneter paman sam ini yang tidak begitu kuat sekarang malah mainkan lagi stimulus ditingkatkan padahal sudah babak belur akibat krisis subrime mortgage tahun 2008. Indonesia sendiri pandangan saya perlu cetak biru tersebut, rekonsiliasi moneter yang dilakukan pemerintah masih terlihat separuh hati, tidak ada koreksi aritmatika import padahal sejarah mencatat 1930-an sd sekarang kongjungtur moneter terjadi rata-rata hampir setiap 5 tahun sekali.

Belum lagi jika dikaitkan dengan biaya haji tahun ini, dengan stimulus the fed meningkat maka yang terjadi diasumsi dollar akan semakin melambung tinggi, karena 95% transaksi haji dilakukan dengan dollar. Jika itu terjadi, maka haji akan menjadi penyumbang tingkat kenaikan dollar dan berpengaruh pada tingkat stabilitas moneter nasional. 155.200 haji regular dengan usulan biaya haji 3,193 USD  dan 13.600 haji khusus dengan biaya minimum 8,000 USD dan semuanya bertotal 604,353,600 juta USD. Pelunasan ini akan dilakukan sejak Maret dan akan terjadi ledakan pelunasan pada kisaran Mei (pelunasan haji regular), potensi gagal bayar lunas hajipun akan mengalami trand gap yang krusial dan berpeluang menjadi isue nasional.

Jangan sampai terjadi bahwa haji merupakan faktor penyumbang baik terpaksa maupun tidak atas tappering the fed ini yang berpengaruh pada ketidakstabilan moneter nasional, mestinya pada kwartal kedua the fed kecenderungan dollar menurun, namun menjadi naik kembali akibat ledakan pelunasan haji pada kwartal kedua atau bulan Mei mendatang.(ar/ar)

Jumat, 05 Desember 2014

Pil Sakit Jiwa Kerajaan Dag Dig Dud Der


Jakarta (WarkopPublik)--Konon, di negeri antah berantah terdapatlah sebuah kerajaan besar dan makmur yang bernama Kerajaan Dag Dig Dug Der. Besar karena luasnya wilayah kerajaan tersebut baik darat maupun lautnya. Makmur, karena banyaknya sumberdaya alam yang dikandung di bumi kerajaan tersebut. 

Namun kebesaran dan kemakmuran kerajaan tersebut tidak membawa rakyatnya untuk terikut kemakmuran itu. Entah apa sebab, tak ada yang tahu, bahkan rakyatnya sendiri saja bingung mengapa hidup mereka tidak sebesar dan semakmur kerajaannya yang selama ini sangat dibanggakan.

Akhirnya, karena kebingungan dan kebanyakan energi yang terkuras memikirkan itu semua akhirnya semua rakyat menderita penyakit jiwa mungkin akibat banyaknya urat syaraf yang putus urat karena berfikir berlebihan setiap hari. Yah, berfikir hidup, berfikir masa depan, berfikir cari kerja, berfikir penyakit sosial, berfikir harga pada naik, multi berfikirlah pokoknya.

Hanya keluarga istana, para menteri, patih, dan laskar kemanan yang saat itu masih waras. Akhirnya, seluruh perintah yang diinstruksikan raja kepada mereka untuk disampaikan kepada rakyat tidak dapat berjalan karena rakyatnya semuanya telah sakit jiwa. Rakyat hanya tertawa manakala para menteri menyampaikan instruksi dari Paduka Raja, malah adakalanya disoraki.

Raja bingung, dan mengumpulkan seluruh para menteri, patih dan petinggi kemanan untuk mendapatkan masukan dalam menstabilkan kondisi ini. Semuanya tidak dapat memberikan pendapat dan masukan, jalan buntu. 

Eh, ditengah kebingungan tersebut sontak semua yang hadir terkejut karena tukang kebersihan istana yang kebetulan sedang membersihkan meja makan mengatakan, “Maaf beribu maaf paduka, izinkan hamba untuk memberikan pendapat, apakah diizinkan paduka?”

Rajapun menjawab dengan wajah keraguan, “Silahkan dan jangan lama-lama!” Tukang kebersihan itu menjawab,”Walaupun ini bukan urusan hamba, namun ada baiknya paduka raja dan seluruh para menteri serta petinggi kemanan dan keluarga istana meminum sebuah pil untuk menstabilkan kondisi ini.”

“Pil apa itu hayooo sebutkan!” Bentak raja. “Pil untuk menjadi orang sakit jiwa paduka raja," Jawab tukang kebersihan dengan polosnya. “Karena kalau orang waras memimpin rakyat yang yang sakit jiwa atau sebaliknya pemimpin yang sakit jiwa memimpin rakyat yang waras maka tidak akan ada gunanya,” Tambah tukang kebersihan itu.

"Wah, bagus juga idenya. Para menteri, hayo lakukan penelitian dan secepatnya diproduksi pil itu. Agar segera kita konsumsi," perintah raja pada menterinya. (ar/ar)

Kamis, 04 Desember 2014

Usia Nikah, Upsss Ntar Dulu Ada Aturan Hukumnya Loh!




Jakarta (WarkopPublik)--Usia Nikahpun di atur. Kemerdekaan seseorang untuk menentukan haknya semakin terampas oleh pengaturan pernikahan dengan batas usia minimal. Entah apa makud dari ini semua, apakah bermaksud baik atau sebaliknya ada maksud lainnya. Hukum berlaku general dan bukan parsial. Baik jika pada keluarga yang mampu yang tingkat sosialnya ada, tentu mengejar pendidikan setinggi gunung dan karir setinggi langit menjadi tujuan. Komitmen "nikah" menjadi sebuah momok yang menakutkan dan tingkat kuatir yang tinggi penyebab gagalnya tujuan itu. Namun, bagaimana dengan keluarga lainnya? yang hanya bersandar atas hidup pas-pasan dan seolah anak menjadi beban bagi keluarga dan secepatnya untuk dinikahkan jika sudah akhir baliqh. Belum lagi, jika terjadi hubungan diluar nikah yang berdampak kepada kehamilan, sebagai akibat terbukanya media teknologi informasi dengan manfaat dan mudharatnya.

Semula berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1974 tersebut prasa batas 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria, kini prasa tersebut digugat untuk menjadi 18 dan 21 tahun karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. Sontak saja, terjadi pro dan kontra atas penggugatan ini yang sekarang sedang dilakukan persidangan untuk menguji Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974 di Mahkamah Konstitusi.

Silahkan perdebatkan prasa tersebut, hanya saya pribadi memberikan masukan bahwa, analisis dari semua aspek dan tidak hanya berbicara pada aspek agama ataupun konstitusi. Namun analisis juga dari aspek fakta dan realitas yang ada, agar jangan sampai hukum tersebut justru menjadi memasung kebebasan terutama pada seorang wanita. Jika seorang anak yang berusia 15 tahun, disebabkan faktor ekonomi, under control teknologi informasi berkeinginan bulat untuk menikah apakah belum hamil atau sudah hamil, kemudian menjadi terhalang oleh hukum yang sedang diperdebatkan ini dan selanjutnya anak tersebut bunuh diri, maka Anda-Anda yang menyusun hukum itulah orang yang paling bertanggungjawab.

Saya yakin, penyusun hukum tersebut pasti semuanya orang yang mampu baik harta maupun ilmu, sesekali ajaklah orang yang hidupnya miskin untuk ikut menyusun hukum itu agar Anda tahu bahwa pendapat Anda belum tentu dapat diterima oleh mereka. (ar/ar)

Kamis, 06 November 2014

Para Perindu Arafah


Jakarta (WarkopPublik)--Panas, padat, kemacetan dimana-mana, riuh, ketegangan, cemas, dan berbagai macam aktivitas ibadah dipertontonkan dan dijalani dengan tulus dan ikhlas. Seakan untuk menunjukkan kepada Sang Penguasa Alam bahwa kami datang ke bait al atiq atas panggilan-Nya dan sebagai bentuk kehambaan yang hakiki untuk menyantap hidangan ilahi di padang arafah.

Semua orang terlihat tergesa-gesa takkala akan menyambut beberapa hari lagi peristiwa penting, sebuah peristiwa yang tidak semua orang dapat mengikutinya, wukuf di padang arafah.

Ekspresi penyesalan, kesedihan, keceriaan lebur terlihat jelas pada wajah-wajah lusuh berdebu, lelah dan sedikit kumal. Airmata penyesalan keluar, seolah menyampaikan pesan bahwa mengapa tidak dari dahulu dapat menghadiri undangan itu. Sedih, karena begitu banyaknya perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebelumnya.

Ceria, karena akan menyambut hamburan dan melimpahnya hidangan ilahi dengan taburan-taburan cahaya yang indah. Sangat berbeda dengan saat mengunjungi pusat-pusat wisata mancanegara, dan terlena dengan hedonisme dan konsumtif serta aktualisasi diri yang hanya menyentuh pada kulit dan pikiran, jauh dari sentuhan emosional perasaan.

Hamparan kekeluargaan dibentang, memiliki rasa persaudaraan yang sangat tinggi tanpa batas. Tidak mengenal status sosial apapun. Semua melebur dalam kedamaian kekeluargaan dan tolong menolong yang sangat tinggi. Tanpa instruksi, mengalir dalam panggilan kejiwaan yang mendorong kuat untuk berbuat kebaikan.

Wajah-wajah orang yang dicintai hadir dalam kerumunan ibadah itu, jelas dan nyata. Bibir-bibir kering bergumam melantunkan dzikir di setiap saat dan di setiap waktu. Mempersiapkan dan membekali diri untuk dapat berkonsentrasi penuh dalam menyantap hidangan ilahi itu. Dan akhirnya, hari yang dinantikan itupun tiba.

Padang tandus itu ramai dengan lilitan putih, bagai tebaran permadani putih, bagai kumpulan pingwin, bagai hamburan kapas-kapas putih tebal yang menyelimuti padang pasir itu. Gema talbiyah, gema dzikir, gema isak tangis terdengar sangat syahdu. Instrumental yang tidak dapat dinotasikan dalam sebuah musik. Ketika saat itu tiba, ketika taburan cahaya indah itu ditebar walau sesaat, pikiran terbang menuju arsy penuh muatan dzikir dan talbiyah, bukan pikiran kosong dan bukan juga sebuah lamunan.

Panasnya arafah menjadi sejuk untuk sesaat. Saat itulah, puncak dari kehambaan yang menikmati hidangan yang sangat nikmat sekali, bahkan bagai dedaunan kering, penikmat itu jatuh dan merindu kepada nur-Nya agar kenikmatan itu terus dirasakan dan tidak mau melepaskan kenikmatan itu, doapun diijabah. Wafat dalam keadaan ihram, sahid dalam pelukan talbiyah dan selimut arafah.

Beruntunglah mereka yang tidur dengan ihramnya dan akan bangkit kemudian dengan talbiyah untuk menyelesaikan hajinya. Beruntunglah mereka yang telah menikmati hidangan ilahi dalam hamparan padang yang luas dengan menu yang diracik dan disajikan langsung oleh Yang Maha Agung. Ya Allah, undanglah kami, panggillah kami untuk dapat kembali menyantap hidangan-Mu. (ar/ar)

Banjirnya Mahasiswa Asing Di USU: Menarik Diperbincangkan Bukan Untuk Dipersoalkan



Jakarta (WarkopPublik)--Terkait tentang membanjirnya mahasiswa asing di Universitas Sumatera Utara menjadi hal cukup menarik untuk diperbincangkan bukan untuk dipersoalkan. Mengapa dikatakan tidak untuk dipersoalkan, karena hak untuk menempuh pendidikan adalah hak dalam hidup seorang manusia tanpa terkecuali. Ada yang mempersoalkan tentang hal dimaksud dengan berpedoman kepada Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Nomor 1840/D/T/2001 tanggal 31 Mei 2001 Perihal Ketentuan Mengenai Penerimaan Mahasiswa Asing di PTN.

Surat Edaran ditafsirkan seolah-olah surat edaran adalah merupakan sebuah norma dan berdampak kepada hukum. Penting untuk dilakukan kajian secara tata hukum terlebih dahulu untuk menentukan apa kedudukan surat edaran ditinjau dari sudut pandang tata hukum Indonesia. Apakah surat edaran masuk dalam norma hukum atau hanya sebatas kedudukannya sebagai surat yang lebih tinggi dari surat biasa. Terlalu premature jika ada yang menjadikan hal yang menarik seperti ini menjadi sebuah persoalan, apalagi persoalan hukum.

Sebagai menambah khazanah dan wawasan kita bahwa berdasarkan data dari Nesoindonesia http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/fakta-menarik bahwa jumlah mahasiswa internasional di Belanda tahun 2012-2013 sebanyak 90.500 orang. Di Jerman Sekitar 300.000 mahasiswa asing saat ini melanjutkan studi, angka ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Johanna Wanka melalui sebuah wawancara http://www.dw.de/jerman-senang-terima-mahasiswa-asing/a-17792273.

Belum lagi peningkatan mahasiswa asing di Mesir, Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Australia. Pernahkah dipermasalahkan, justru menjadi kebanggaan tersendiri bahwa negara mereka menjadi sentra-sentra pendidikan di dunia internasional.

Pertanyaan yang menarik adalah mengapa ada yang membatasi seseorang untuk menempuh pendidikan dengan landasan Surat Edaran. Bukankah pembatasan tersebut membagun sebuah tirani dan sikap tertutup kepada negara lain. Disaat sedang diintensifkannya budaya kita di kancah dunia internasional menjadi kontradiktif dengan pembatas tersebut. Justru semakin banyaknya minat masyarakat internasional untuk menempuh pendidikan di Indonesia akan membangun brand building inilah Indonesia dengan keragaman budaya dan masyarakatnya. Banyak hal yang bermanfaat atas itu semua, karena estafetisasi informasi yang tentunya akan dibawa oleh mahasiswa internasional tersebut ke masing-masing negaranya.

Tidak ada hal yang dipermasalahkan tentang banyaknya minat mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia. Mungkin hanya sentimen personal atau juga hal lainnya yang lantas dikaitkan dengan banyaknya mahasiswa asing, tentunya obyek hal itu berbeda dan berbeda juga cara menyimpulkannya.

Cobalah melakukan metodologi berfikir cerdas dengan menganalisa dari dasar sehingga kesimpulan juga benar sehingga penghargaan yang diterima oleh USU dari tidak menjadi sentiment negatif pada pandangan dunia pendidikan internasional karena menjadi persoalan yang dibangun dengan dasar yang rapuh untuk itu kedudukannya lebih bijak menjadi sebagai perbincangan positif yang menarik.

Universitas Sumatera Utara (USU) telah menjadi perhatian dunia. Perhatian ini berkenaan dengan peringkat internasional yang diraih oleh universitas ini, setidaknya inilah hal yang disampaikan Rektor USU Prof. Syahril Pasaribu saat pengukuhan Prof. Zuriah dan Prof. Ginda menjadi Guru Besar USU, Senin 22 September 2014 yang lalu. Inilah potret Universitas yang sudah berumur 62 tahun dengan segala dinamika positifnya dalam dunia pendidikan di tanah air dan internasional. (ar/ar)