Running Text

ADVOKASI HAJI DARI DAN UNTUK JAMAAH (KLIK DI SINI) PENINGKATAN LAYANAN HAJI 2017 BUKAN CERITA 'DONGENG' (KLIK DISINI) ABDUL DJAMIL, PEMIKIR CERDAS DAN TOKOH PERUBAHAN HAJI INDONESIA (KLIK DISINI) AFFAN RANGKUTI: SELAMAT DATANG JEMAAH HAJI INDONESIA SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-71, NKRI HARGA MATI” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “SELAMAT JALAN JEMAAH HAJI INDONESIA 2016 SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI REGULER TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) KEMENAG DAN DPR SEPAKATI BPIH 2016 TURUN 132 USD DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI KHUSUS TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) SELAMAT ATAS KEMENANGAN MUSA LA ODE ABU HANAFI YANG MERAIH JUARA KETIGA DALAM AJANG MUSABAQAH HIFZIL QURAN (MTQ) INTERNASIONAL DI MESIR SELAMAT ATAS LAHIRNYA CUCU PRESIDEN JOKO WIDODO DASAR HUKUM MENJERAT TRAVEL HAJI DAN UMRAH NAKAL (KLIK DISINI) POTENSI PDB INDUSTRI JASA UMRAH 16 TRILYUN RUPIAH PER TAHUN JOKOWI AJAK TWITTER SEBARKAN PESAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN MENAKAR INDUSTRI JASA HAJI DAN UMRAH NASIONAL DI ERA PASAR BEBAS ASEAN SELAMAT ATAS PELANTIKAN SOETRISNO BACHIR MENJADI KETUA KEIN KAPOLRI BERTEKAD PERANGI AKSI TEROR

Selasa, 26 September 2017

'Raja Bonobo' Gol Kena 'Lendir'

Pengantar 'Raja Bonobo' di website lendirnya
Foto: warkoppublik
Jakarta (WarkopPublik)--Meski baru diperkenalkan 19 September 2017 aplikasi ini menyita perhatian. Ada pro dan kontra.  Bahkan Nikah Siri Online masuk kategori pencaria terpopuler di Google Trend Indonesia.

Selain mengklaim aplikasinya salah satu cara mewujudkan Indonesia Damai lewat program nikah siri online, Aris Wahyudi juga menggaransi mitra atau klien yang bergabung dijamin perawan dan perjaka.

Aris Wachyudi mengambil sampel hasil temuan peneliti yang melakukan pengamatan pada 2 (dua) jenis kera, yaitu simpanse dan bonobo. Dimana keduanya punya 97 persen kemiripan dengan DNA manusia.

"Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan di dalam kelompok Bonobo lebih damai karena mereka sering melakukan hubungan seksual. Dengan adanya pemenuhan kebutuhan biologis di komunitas Bonobo, telah membuat mereka lebih rileks, tidak stress, dan cinta damai. Sebaliknya, simpanse yang jarang melakukan aktivitas seksual, terbukti mempunyai kehidupan yang keras, penuh pertikaian, dan tidak jarang saling membunuh," pengantar Nikahsirri.com.

Ditambahkan juga di dalam pengantar itu bahwa bahwa saat ini, negara Indonesia seperti komunitas simpanse yang penuh dengan kekerasan, dengan adanya program Nikahsirri maka masyarakatnya akan mirip komunitas bonobo yang penuh dengan cinta.

Sebelum banyak yang jadi 'Bonobo', Penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, pada dini hari tadi menyatakan telah menangkap pemilik laman tersebut, yakni Aris Wahyudi. Ia ditangkap di kediamannya, saat sedang tidur.

Mungkin saja saat tidur si Aris ini sedang memimpikan membangun kerajaan megah para 'Bonobo' dan dia yang menjadi raja nya. Gagal deh keburu gol akibat 'lendir'.

Polri harus memberikan 'pelajaran' yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup bagi si 'Raja Bonobo' ini. Misalkan disatu kandangi dengan hewan buas. Binatang 'serasi' nya kan dengan binatang juga. (ar/ar)

BPKH Penolong atau Nambah Beban

Pelantikan Dewan Pengawas dan Pelaksana BPKH
Foto: kumparan.com
Jakarta (WarkopPublik)--Kini, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sudah hadir. Mampukan BPKH menurunkan ongkos naik haji tanpa mengeruk optimalisasi dari outstanding itu sendiri. Jika mampu hebatlah BPKH. Asal jangan terjadi pembebanan biaya pada internal BPKH. Karena sebagai badan yang baru pasti membutuhkan biaya ini itu.

Gaji saja misalkan. Jika gaji BPKH dengan jumlah semisal 100 orang saja ditambah 14 orang komisioner (pelaksana dan pengawas). Ini bisa menyedot duit per bulan minimal 1,5 milyar rupiah. Belum lagi untuk sarana dan prasarana kegiatan. Boleh jadi total duit disedot minimalnya per bulan lebih kurang 10 milyar rupiah. Bisa lebih tinggi, tergantung standar dan acuan mana yang dipakai. Kecuali pegawai dan komisioner BPKH mau tak digaji alias sukarela, tapi apa mungkin ya? Cerita dongeng kali kalau tak mau digaji.

Kalau duitnya dari APBN itu mungkin tidak masalah. Menjadi masalah jika duitnya dari outstanding duit haji. Paska pembentukannya saja denyut kinerja BPKH nyaris tak terdengar. Kalau iklan salah satu perusahaan otomotif 1990-an dengan jargon "nyaris tak terdengar" itu artinya bagus. Nah kalau nyaris tak terdengarnya kinerja badan publik ini kira-kira bagus tidak ya.

Kalaulah kinerja BPKH menghasilkan sama dengan apa yang dilakukan oleh Kementerian Agama lalu buat apa dibentuk. Hasil sama saja akan menjadi tidak bagus, karena biaya bertambah. Apalagi jika hasilnya di bawah. Belum lagi soal personal yang mengisi BPKH.

Cerita mengelola duit haji, pintar dan cerdas saja tidak cukup tapi perpaduan antara pintar, cerdas dan pengalaman. Urusan haji itu sangat kompleks. Karena soal duit haji itu bukan kitab si Keynes cs yang dijunjung, tapi ada kitab terkait nash qod'i yang dipakai. Gak bisa juga nash qod'i diplintir jadi 'halam'. Halal ya halal, haram ya haram. Jelas aturan mainnya. Kalau tidak jelas ya selamat dan sukses kita doakan pada si pembuat fatwa nantinya.

Mengurus duit umat termasuk duit haji, sebaiknya hati-hatilah. Kebiri hati dari godaan lambaian dan harumnya duit. Karena itu duit orang dari semua kalangan yang ingin masuk surga melalui ibadah. Silap sedikit saja dalam mengelolanya akan ada dampak, kalau kata anak 'pasar' gunakan yang bagus dan amanah itu duit umat kalau tak mau 'mati biru'.

Jangan silap-silap ya om...tante...pak...bu...BPKH. Jangan banyak melancong dan duduk-duduk, kurang baik untuk kesehatan. Ditunggu nih hasil kinerjanya tentang duit haji. (ar/ar)

Minggu, 24 September 2017

'Nano-nano': Perlukah Introspeksi Massal?

Infografis tentang generasi milenial
Infografis: tirto.id
Jakarta (WarkopPublik)--Suatu hari, aku mencoba meminta pendapat tentang paham, keyakinan dan ideologi pada anak muda yang lahir di era 86-an. Dia bukan anak yang tidak berpendidikan. Sangat berpendidikan malah. Pemikirannya cerdas dan dari kalangan orang yang berada.

"Apa pendapatmu tentang paham, keyakinan dan ideologi," tanyaku.

Dia menjawab dengan sederhana, "Bang, aku tidak ada urusan dengan itu semua. Bagiku mau apa pun ya terserah saja. Bagiku yang penting yang bisa menjamin hidup aman dan sejahtera," jawabnya.

"Sesederhana itukah?" selidik ku untuk menggali lebih jauh.

"Iya bang. Aman tak ada rusuh-rusuh. Sejahtera kebutuhan dapat terpenuhi. Apa pun dan siapa pun yang bisa untuk itu aku ikut," katanya.

Aku sebagai anak sekarang, kurang menyenangi panggung sandiwara bang. Sulit menerka mana pemeran utama, mana protagonis dan mana antagonis. "Blur bang," katanya berpendapat.

Lalu aku pun bertanya bagaimana dengan agama, kan agama mengajarkan hal kebaikan dan memberikan solusi pada semua hal. "Termasuk yang kau inginkan tadi," terangku.

Dia menjawab bahwa agama itu baik, tapi lihat dulu siapa yang menyampaikannya. Jika antara kata, hati, perbuatan yang menyampaikannya berbeda dalam kenyataan inilah yang menimbulkan kebimbangan. "Kita butuh konsistensi dan garis lurus, kalau kenyataannya bengkok-bengkok ini yang jadi kebimbangan bang," jawabnya tegas.

Aku pun bertanya lagi mengapa bisa seperti itu dia dapat melakukan penilaian. "Kok bisa seperti itu kamu menilainya?" Tanyaku kembali.

Dia pun menjawab, bukan aku yang menilai bang. Aku hanya melihat dari apa yang aku lihat, dan kenyataannya memang seperti itu. Apakah abang bisa kasi solusi atas itu? Paling abang juga akan nyerah. Mau membiayai orang sakit, mau membiayai anak-anak putus sekolah, mau bayar pengobatan orang, mau bayar ambulan buat anak kecil wafat ah banyaklah bang. "Kalau pun abang mau menurut aku abang ingin dipublikasikan, berimbal jasa jadinya alias gak ikhlas. Maaf ya bang," katanya.

"Astaghfirullah hal adzim, ampun kan kami Ya Rabb. Kami telah banyak melakukan kesalahan. Kami telah banyak melakukan dosa hingga anak muda ini dapat mengambil kesimpulan seperti ini. Ya Rabb ampunkan kami ya Rabb," doa ku dalam hati.

Ini secuil kisah perbincangan yang sangat memukul batin tapi sakitnya sampai ke semua sendi. Perlu introspeksi massal, bukan menyalahkan apalagi memaksakan sesuatu. Karena salah dan benar saat ini menjadi keabuan disebabkan kenyataan dalam sudut pandang 'nano-nano' berbeda, beragam dan bercorak. (ar/ar)

Sabtu, 23 September 2017

Yartis, Ada 'Thogut' Nanti

Ilustrasi 'Thogut' e-KTP
Foto: semarak.news
Jakarta (WarkopPublik)--Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan bahwa pihaknya terus menelusuri kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun dalam proyek kasus e-KTP.

Tak ada kata terlambat, tak ada kata telat. Soal dan sial e-KTP ini didalami bukan tanpa perhitungan, sekelas KPK tak masuk akal jika ecek-ecek dalam menetapkan seseorang jadi tersangka.

Mau apa pun soal urusan administrasi dipastikan yang ditanya KTP. Sebagai rakyat yang patuh dan disiplin aturan administrasi pastilah akan mengurus yang namanya KTP. Gratis, itu hanya kata sakti. Iya gratis, selesainya sampai batas yang tak ditentukan.

Tak usah jauh-jauh lah. Aku saja mengurus KTP kisaran 2012 silam. Bulan Ramadan kita disuruh kumpul di kantor kecamatan. Antri untuk foto, pas lagi puasa pula. Yah..yang namanya rakyat ya patuh sajalah. Dari pada tidak dapat KTP ya ikuti aturan main saja.

Selang dua tahun, catat ya dua tahun. Itu KTP jangankan dapat, kabar akan keluarnya pun mungkin hanya 'nyamuk' dan 'lalat' di kantor camat saja yang tahu. Hingga akhirnya batas kesabaranku pun tercolek. Akhirnya kisaran 2015 mendatangi kantor camat dan bertanya mengapa kok KTP tidak keluar-keluar. Karena ditanya barulah diproses kembali, ngerih kali ah.

On kembalilah proses urus KTP tadi. Wah....wah...mantab, petugas minta agar kalau mau cepat bayar. Fantastik, minta 500 ribu bro untuk tiga KTP. Makjang, cari masalah nih kek nya petugas kecamatan. Akhirnya seminggu kemudian KTP pun jadi. Apa harus mengurus yang namanya administrasi rakyat harus diperlakukan seperti itu. Iya jika si rakyat tadi punya pengetahuan atau yang berpendidikan, nah kalau yang tidak cemana? Lagi-lagi hanya 'nyamuk' dan 'lalat' di kantor camat yang tahu.

Kita sih sebagai rakyat sebenarnya sederhana kok. Jika memang bayar ya bayar, jika memang gratis ya gratis jangan antara bayar dan gratis alias yartis. Karena antara bayar dan gratis ada si 'Thogut'. Kalau dah masuk dia maka urusan beda.

Semua sadar diri kok, hidup perlu uang. Tapi cara memperoleh uang haruslah yang terhormat dan tidak membuat orang lain susah. Tidak semua orang kaya atau sederhana dan tidak semua orang pula hidup miskin. Jadi kalau memang gratis ya gratis dan tetapkan kepastian selesainya.

Sudah tidak zaman nya lagi mengurus administrasi disaat persyaratan lengkap ada jawaban "tunggu, sabar, nanti akan dikabari dan lain-lain". Jawaban harus jelas dan tegas "syarat lengkap dipastikan sekian hari selesai". Jangan ada buntutnya ya dibelakang atau kata "tetapi atau pakai kode segala macam". Nah si om ombudsman kek nya harus sering-sering ke tingkat layanan nih. Evaluasi pelayanan dan harus tegas om, jangan lembek kek tape gak takut mereka om.

Kasus e-KTP ini menjadi pelajaran yang sangat berharga pada tingkatan pengguna dalam hal ini rakyat dalam pengurusan administrasi penting apapun bentuknya. Pertama, agar dalam soal pengurusan administrasi dapat dilakukan dengan kepastian penyelesaian dengan catatan persyaratan lengkap. Kedua, perlu penegasan berbayar atau gratis, jangan diantara keduanya alias yartis. Kalau yartis itu bisa Ujung-Ujung nya Duit atau Semua Urusan Melalui Uang Tunai. (ar/ar)

Hubungan Semu Bos dan Bawahan

Ilustrasi hubungan semu
Foto: m.kaskus.co.id
Jakarta (WarkopPublik)--Kring....kring...kring...berbunyi ponsel pada kisaran pukul 23.00 WIB. Itu bukan kali pertama ponsel berbunyi pada pukul di luar jam kerja. Cara menjawab telepon pun seolah si bos ada di depan mata. Pakai menganggukan kepala pula sembari berkata siap bos...segera bos, baik bos. Suka tidak suka itu merupakan bagian dari tugas. Tugas sebagai bawahan yang loyal pada bos nya. Kalau tidak dijawab lain cerita nya nanti.

Hari libur, tidak ada mungkin kamus tentang itu. Bagai seorang 'prajurit', kapan pun bos menghubungi dan meminta untuk memberikan pemikiran, merancang dan membuat pemaparan, meminta masukan pemikiran dan hadir untuk mendampingi.

Jujur, mungkin tidak semua orang akan mau diperlakukan seperti ini. Kalau pun mau setidaknya ada tujuan yang ingin diperoleh, kenaikan pangkat dan kedudukan. Tetapi, tidak semua orang juga yang akan mau walau akan ada perhatian khusus agar pangkat dan jabatannya akan naik. Inilah pilihan, loyalitas apakah itu ikhlas atau tidak, menjadi pilihan.

Nantinya, pilihan itu akan memiliki konsekuensi, waktu yang akan menentukan. Era saat ini memilih tidak loyal akan semakin banyak. Akan ada pemikiran bahwa tidak ada enak nya dekat dengan bos. Karena sering disuruh, dihubungi tanpa mengenal waktu.

Bos pun akan berfikir sama, esok lusa jika tidak menjabat akan tidak dipandang lagi. Jadilah hubungan yang semu. Era ini juga mungkin mulai membentuk setiap aktivitas diukur dengan nilai. Bahkan, tidak sedikit yang akan melakukan autokritik walau nantinya akan dinilai sebagai penentang dan melawan arus.

Pada prinsipnya, kedua pilihan itu dalam posisi benar. Benar dalam artian tidak dalam perbuatan yang salah dalam norma hukum. Akan menjadi salah jika dihadapkan pada budaya organisasi yang sudah lama mencengkram dan terkesan menghegemoni dan otoriter.

Pergeseran kepemimpinan saat ini cenderung egaliter hingga target untuk membangun simpatik proletar lebih dapat diraih. Namun, sebagai manusia yang memiliki nafsu adakalanya gaya tersebut sebagai lipstik. Tetap saja akan senyum di depan dan meninju dibelakang.

Semisal, sudah jarang dialami seorang bos akan datang saat ada musibah pada bawahan nya. Atau minimalnya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Tetap saja seorang bawahan akan berfikir negatif dan dongkol, namun senantiasa berucap si bos lagi sibuk atau lupa. Si bos juga sama akan berfikir buat apa datang atau memberikan ucapan, aku ini kan bos.

Ini hanya pandangan fiksi, pandangan yang mencoba untuk mendudukan kembali apa sebenarnya arti hubungan. Saat hubungan terbungkus dengan norma dan status maka jangan heran akan ada kasta. Saat hubungan dibalut dengan persaudaraan akan menjadi peduli dan memiliki. Apa pilihannya tergantung pada diri sendiri. (ar/ar)

Jumat, 22 September 2017

'Cling' Muharam

Ilustrasi bermuka dua
Foto: ziripress.com
Jakarta (WarkopPublik)--1 Muharam (1439 H) hadir kembali. Akankah diikuti dengan kehadiran-kehadiran kesalehan pribadi dan sosial yang lebih nyata jangan malah kebalikannya ya, kesalahan pribadi dan kesalahan sosial. 'Lomba pidato' alias recok ini, recok itu tetap saja angka kemiskinan tinggi, tetap saja pengangguran banyak.

Lomba pidato tidak membuat angka kemiskinan menurun signifikan. Lomba pidato tidak menjadikan pengangguran jadi persoalan berkesudahan. Namanya juga direcoki. Bagaimana sistem berjalan dengan bagus jika terus direcoki.

Boleh lah direcoki tapi berikan solusi, jangan hanya sekedar recok dan cuap-cuap tidak jelas. Berani merecoki berani juga memberikan solusi dengan kajian dan analisa lalu dipaparkan. Tidak hanya lomba pidato saja.

Hidup miskin itu tidak mengenakkan, hidup menganggur itu juga sama. Pribadi-pribadi ini berpotensi untuk menjadi kufur. Pribadi-pribadi ini merasa terasingkan dalam berinteraksi. Pribadi-pribadi ini juga bisa akan melakukan perbuatan melawan hukum. Serta pribadi-pribadi ini juga dapat menjadi alat untuk kanal tujuan dan kepentingan tertentu.

Umumnya, siapa pun orangnya tidak terkecuali akan memposisikan diri menjadi orang yang berbeda manakala ada perubahan kedudukan sosialnya. Entah itu dari miskin menjadi kaya, entah itu dari pengangguran jadi berkedudukan atau yang semula bukan apa-apa menjadi penentu. Pendek kata menurut penulis kata-kata mutiara, emas, intan berlian disebut "nothing to something". Ada perubahan sikap dan sifat, itu kenyataan. Persoalan matarantai sosial yang nyaris tidak dapat diputus.

Tak heran kata sombong, angkuh dan sejenisnya akan menjadi kata yang terbentuk setidaknya dalam hati. Jangankan meminta bantuan, menjumpainya saja perlu waktu dan menunggu. Jawaban klasik akan diperoleh, maaf lagi sibuk. Lantas kadangkala muncul pertanyaan siapa yang dipersalahkan atas ini semua, entahlah.

Matarantai interaksi sosial ini nyata. Contoh saja, suatu ketika si polan ingin bertemu salah satu 'orang besar'. Sudah janjian, sudah juga diagendakan oleh staf pribadinya akan bertemu pada tempat dan pukul yang ditentukan. Tiba di sana malah si polan harus menunggu seperti orang bego berjam-jam lamanya. Akhirnya si polan pun memutuskan untuk pulang saja. Buat apa urusan sama orang model begini.

Perihal interaksi sosial seperti ini juga akan membentuk satu karakter pribadi yang memiliki sikap tegas yang berpotensi keras dan 'vocal' bahkan akan dikecam sebagai penentang. Ya mau apa lagi, kondisi yang menciptakan itu.

Saat luka terjadi itu ada rasa sakit. Pun jika sembuh juga akan tetap menimbulkan bekas yang tidak akan bisa dihilangkan. Walaupun sembuh juga akan berpotensi luka itu akan sakit kembali.

Semoga saja sketsa buram sosial ini dapat sedikit demi sedikit di 'cling' kan dengan hadirnya kembali 1 Muharram. Tidak ada perbedaan antara kita, yang berbeda hanyalah cara kita berfikir, cara kita menyikapi, cara kita dalam menyakini. Kita sama, sama-sama makhluk yang punya segumpal daging hati. Perasaan adalah salurannya dan saling menjaga dan menghargai adalah muaranya. (ar/ar)

Daun Saja Beda, Apalagi Pendapat Orang (Jangan Dipaksakan)

Ilustrasi beda pendapat
Foto: opini.id
Jakarta (WarkopPublik)--Pemutaran film 'itu' menjadi perbedaan pendapat. Ada setuju, ada tidak setuju, ada juga yang setuju dengan catatan. Ah...macam-macamlah. Perbedaan pendapat yang sudah ramai seperti ini seperti biasa di 'film' kan langsung dengan judul yang unik. Besoknya 'film' menjadi bahan pembicaraan yang kembali bernuansa balik kepada perbedaan pendapat.

Masalah perbedaan pendapat itu adalah hal yang umum dalam menyikapi sebuah pandangan atas sesuatu hal. Tak perlu untuk memaksakan diri bahwa satu pendapat adalah kebenaran dan satu pendapat lainnya adalah kekeliruan. Mau sampai 'telentang telungkup' pun perbedaan pendapat itu tidak akan pernah dapat disatukan.

Bebas saja kok dalam berbeda pendapat, hanya saja pendapat juga harus diikuti dengan etika dan moral. Jangan berpendapat 'asal bacok' saja. Ini bisa menimbulkan persoalan dan persinggungan baru, seperti 'berternak' dan 'budidaya' persoalan jadinya.

Kembali pada persoalan film 'itu'. Tentu juga menjadi hak orang lain untuk mau atau tidak menontonnya. Tidak perlu dipengaruhi apalagi dipaksa agar menontonnya. Namanya hak ya hak. Apakah hak itu akan diambil atau tidak berpulang kepada pribadi masing-masing. Sama seperti hak berserikat dan berkumpul, mau diambil haknya silahkan tidak juga ya tidak masalah.

Kalau begitu hak aku juga untuk perpendapat soal film 'itu'. Pendapatku soal film itu bukan pada sisi benar atau salahnya, bagus atau tidak bagus atau apalah. Tapi aku hanya berpendapat pada sisi manfaatnya. Apa manfaatnya bagiku melihat film 'itu'. Kalau lah aku menilai lebih banyak manfaatnya bagiku ya akan aku tonton, jika tidak ya tidak aku tonton. Boleh kan...ya boleh dong, kan hak menonton atau tidak itu urusan masing-masing.

Saat ini, menurut aku pribadi terjebak dalam sebuah kondisi apa untungnya bagiku. Toh orang susah lihat aku senang kok, dan senang lihat aku susah. Jadi prespektif ke depan adalah bagaimana mengurus periok aku agar tetap berasap, bagaimana mengurus mata air tetap mengalir. Sederhana kok hidup ini. Tak perlu dibuat rumit. Oh ya...ini pendapatku ya.

Aku yakin ada yang tidak sependapat denganku. Ya silahkan saja, itu hak. Jangan dipaksakan agar menjadi sependapat. Tumbuhan dan hewan dan apa-apa yang ada di dunia ini berbeda kok. Jenis daun saja itu beda alias tak ada yang sama. Jadi tidak perlu dipaksakan harus sama, karena jika disamakan maka bukan dunia lagi namanya. (ar/ar)