Running Text

ADVOKASI HAJI DARI DAN UNTUK JAMAAH (KLIK DI SINI) PENINGKATAN LAYANAN HAJI 2017 BUKAN CERITA 'DONGENG' (KLIK DISINI) ABDUL DJAMIL, PEMIKIR CERDAS DAN TOKOH PERUBAHAN HAJI INDONESIA (KLIK DISINI) AFFAN RANGKUTI: SELAMAT DATANG JEMAAH HAJI INDONESIA SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-71, NKRI HARGA MATI” AL WASHLIYAH MENGUCAPKAN “SELAMAT JALAN JEMAAH HAJI INDONESIA 2016 SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR” DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI REGULER TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) KEMENAG DAN DPR SEPAKATI BPIH 2016 TURUN 132 USD DAFTAR NAMA BERHAK LUNAS HAJI KHUSUS TAHAP I TAHUN 2016 (KLIK DISINI) SELAMAT ATAS KEMENANGAN MUSA LA ODE ABU HANAFI YANG MERAIH JUARA KETIGA DALAM AJANG MUSABAQAH HIFZIL QURAN (MTQ) INTERNASIONAL DI MESIR SELAMAT ATAS LAHIRNYA CUCU PRESIDEN JOKO WIDODO DASAR HUKUM MENJERAT TRAVEL HAJI DAN UMRAH NAKAL (KLIK DISINI) POTENSI PDB INDUSTRI JASA UMRAH 16 TRILYUN RUPIAH PER TAHUN JOKOWI AJAK TWITTER SEBARKAN PESAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN MENAKAR INDUSTRI JASA HAJI DAN UMRAH NASIONAL DI ERA PASAR BEBAS ASEAN SELAMAT ATAS PELANTIKAN SOETRISNO BACHIR MENJADI KETUA KEIN KAPOLRI BERTEKAD PERANGI AKSI TEROR

Kamis, 22 Oktober 2015

Merajut Persaudaraan Kebangsaan Melalui Pribadi Mabrur

Jakarta (WarkopPublik)--Penyelenggaraan haji tahun ini berjalan dengan baik merupakan tekad Kementerian Agama (Kemenag) di bawah kepemimpinan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menteri yang merakyat. Targetnya tidak hanya berhasil dalam penyelenggaraannya saja, tapi juga dalam ibadah.


Penyelenggaraan ini juga mandat dari undang-undang. Undang-Undang 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji memandatkan haji sebagai agenda dan tugas nasional yang diamanahkan kepada Kemenag dan harus terlaksana dengan baik setiap tahunnya.

Tahun ini (2015) ditargetkan dua macam keberhasilan yang harus diusahakan dan dicapai bersama-sama. Pertama, Berhasil dalam penyelenggaraan haji, dan kedua berhasil pula dalam ibadah.

Kementerian Agama telah dan terus melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan bagi seluruh jemaah haji, sejak persiapan di Tanah Air, pelaksanaan di Tanah Suci, hingga pemulangan ke kampung halaman. Meski demikian, penting digarisbawahi bahwa keberhasilan penyelenggaraan tercapai jika seluruh jemaah benar-benar dapat merasakan langsung manfaat pelayanan yang diberikan oleh petugas. Pelayanan yang diberikan benar-benar dapat membantu para jemaah sehingga dapat melaksanakan seluruh rangkaian manasik haji dengan khusyu sesuai tuntunan sunnah rasul, dalam suasana nyaman dan aman.

Terkait dengan hal itu, patut diapresiasi kerja keras seluruh petugas haji dalam mengemban tugas negara dalam melayani kebutuhan warga negara yang melaksanakan ibadah haji.  Harapan dan semangat pengabdian ini tidak surut, tetapi terus dipelihara dan dipertahankan hingga selesai agenda haji. Secara khusus, patut diparesiasi juga kepada para petugas haji yang rela tidak berihram  demi menjalankan tugas. Tugas melayani duyufurrahman. Ini merupakan totalitas dan kesungguhan dan yakin bahwa apa yang dilakukan petugas tidak kalah besar pahalanya  dibandingkan para hujjaj yang dilayani.

Kisah tabi’in Said bin Muhafah yang tertulis dalam kitab Isyadul Ibad Ila Sabilir Rosyad bisa dijadikan sumber inspirasi tentang keutamaan kebermanfaatan hidup. Dikisahkan bahwa Said yang merupakan tukang sol sepatu mengumpulkan uangnya puluhan tahun untuk berangkat  haji. Namun, ketika tiba saat mau berangkat haji, ia membatalkan karena mengetahui ada tetangganya yang kelaparan. Ia lalu menyerahkan uang tabungannya itu untuk membantu mereka.

Said tidak berhaji, tapi namanya justru disebut malaikat dalam mimpi Abdullah Al-Mubarak, ulama terkemuka Makkah, sebagai muslim yang mendapatkan kemabruran haji pada tahun itu.

Sukses dalam ibadah haji dengan meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal ini ditandai  dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat. Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup bermasyarakat.

Pasca menunaikan ibadah haji  dan pulang ke  kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah, bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran  dan kareanya merasa ibadahnya  sudah selesai.  Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.

Senandung talbiyah labbaikallahumma labbaik yang mengandung komitmen ketakwaan, yang kita kumandangkan tidak berakhir hanya di Tanah Suci, tapi harus berlanjut dalam kehidupan nyata dalam gerak kebudayaan kita di Tanah Air nanti.

Dr Ali Shariati dalam bukunya Hajj, tugas dan kewajiban para haji setelah kembali ke Tanah Air, “Jadikanlah negerimu menjadi sebuah negeri yang aman karena engkau telah pulang dari tanah haram. Jadikanlah zamanmu zaman yang mulia seolah-olah engkau tetap berada di dalam keadaan ihram. Jadikanlah dunia ini seakan menjadi masjid suci karena engkau telah pulang dari Masjid Al Haram.

Pribadi mabrur ditandai oleh sikap cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, saling menghargai dan saling toleransi terhadap perbedaan. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu kita kedepankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di Padang Arafah, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang menyerukan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah) kepada seluruh umat manusia.

Kita ditakdirkan hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk, baik dari segi agama, suku, bahasa dan budaya, maupun paham keagamaan. Terhadap sesama manusia kita perlu tumbuhkan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), terhadap sesama muslim perlu kita kembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), dan terhadap sesama bangsa kita rajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

Pengejawantahan dari ketiga nilai ini merupakan bentuk kemabruran sosial yang perlu dipelopori oleh para hujjaj setibanya di Tanah Air. Dengan spirit persaudaraan itu para hujjaj diharapkan dapat berapa pada garda terdepan dalam  merajut kebersamaan yang akan membawa masyarakat mampu mengembangkan kerjasama dalam membangun kehidupan bersama yang maju dan berkeadaban.

Semoga segenap jemaah haji Indonesia akan memperoleh haji mabrur sejati, yakni dapat meraih pahala dan ridha Allah Swt dari keikhlasan dan ketekunan beribadat di Tanah Suci, dan mampu untuk mewujudkan nilai-nilai kemabruran dalam kehidupan bersama nanti di Tanah Air.

Pada kesempatan berharga dan di tempat yang mustajabah Arafah, jemaah dituntut peduli dan mendoakan Indonesia yang sedang tertimpa musibah lesunya perekonomian dan berbagai cobaan lainnya. Semoga Allah Swt mengampuni dosa kita semua dan menjadikan kita sebagai bangsa yang mampu mewujudkan cita-cita luhurnya, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. (ar/ar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar