Jakarta (WarkopPublik)--Penyelenggaraan haji tahun ini
berjalan dengan baik merupakan tekad Kementerian Agama (Kemenag) di bawah
kepemimpinan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menteri yang merakyat.
Targetnya tidak hanya berhasil dalam penyelenggaraannya saja, tapi juga dalam
ibadah.
Penyelenggaraan ini juga mandat dari undang-undang. Undang-Undang 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji memandatkan haji sebagai agenda dan tugas nasional yang diamanahkan kepada Kemenag dan harus terlaksana dengan baik setiap tahunnya.
Tahun ini (2015) ditargetkan dua
macam keberhasilan yang harus diusahakan dan dicapai bersama-sama. Pertama, Berhasil
dalam penyelenggaraan haji, dan kedua berhasil pula dalam ibadah.
Kementerian Agama telah dan terus
melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan bagi seluruh jemaah haji, sejak
persiapan di Tanah Air, pelaksanaan di Tanah Suci, hingga pemulangan ke kampung
halaman. Meski demikian, penting digarisbawahi bahwa keberhasilan
penyelenggaraan tercapai jika seluruh jemaah benar-benar dapat merasakan
langsung manfaat pelayanan yang diberikan oleh petugas. Pelayanan yang
diberikan benar-benar dapat membantu para jemaah sehingga dapat melaksanakan
seluruh rangkaian manasik haji dengan khusyu sesuai tuntunan sunnah rasul,
dalam suasana nyaman dan aman.
Terkait dengan hal itu, patut
diapresiasi kerja keras seluruh petugas haji dalam mengemban tugas negara
dalam melayani kebutuhan warga negara yang melaksanakan ibadah haji.
Harapan dan semangat pengabdian ini tidak surut, tetapi terus dipelihara dan
dipertahankan hingga selesai agenda haji. Secara khusus, patut diparesiasi juga
kepada para petugas haji yang rela tidak berihram demi menjalankan tugas.
Tugas melayani duyufurrahman. Ini merupakan totalitas dan kesungguhan dan yakin
bahwa apa yang dilakukan petugas tidak kalah besar pahalanya dibandingkan
para hujjaj yang dilayani.
Kisah tabi’in Said bin Muhafah yang
tertulis dalam kitab Isyadul Ibad Ila Sabilir Rosyad bisa dijadikan sumber
inspirasi tentang keutamaan kebermanfaatan hidup. Dikisahkan bahwa Said yang
merupakan tukang sol sepatu mengumpulkan uangnya puluhan tahun untuk
berangkat haji. Namun, ketika tiba saat mau berangkat haji, ia
membatalkan karena mengetahui ada tetangganya yang kelaparan. Ia lalu
menyerahkan uang tabungannya itu untuk membantu mereka.
Said tidak berhaji, tapi namanya
justru disebut malaikat dalam mimpi Abdullah Al-Mubarak, ulama terkemuka
Makkah, sebagai muslim yang mendapatkan kemabruran haji pada tahun itu.
Sukses dalam ibadah haji dengan
meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal
ini ditandai dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat.
Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita
mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang
menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup
bermasyarakat.
Pasca menunaikan ibadah haji
dan pulang ke kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah,
bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran dan kareanya merasa
ibadahnya sudah selesai. Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh
setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak
berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan
makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.
Senandung talbiyah labbaikallahumma
labbaik yang mengandung komitmen ketakwaan, yang kita kumandangkan tidak
berakhir hanya di Tanah Suci, tapi harus berlanjut dalam kehidupan nyata dalam
gerak kebudayaan kita di Tanah Air nanti.
Dr Ali Shariati dalam bukunya Hajj,
tugas dan kewajiban para haji setelah kembali ke Tanah Air, “Jadikanlah
negerimu menjadi sebuah negeri yang aman karena engkau telah pulang dari tanah
haram. Jadikanlah zamanmu zaman yang mulia seolah-olah engkau tetap berada di
dalam keadaan ihram. Jadikanlah dunia ini seakan menjadi masjid suci karena
engkau telah pulang dari Masjid Al Haram.
Pribadi mabrur ditandai oleh sikap
cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, saling menghargai dan saling
toleransi terhadap perbedaan. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam
khutbah wada 14 abad silam, yang perlu kita kedepankan dalam hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di
Padang Arafah, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang
menyerukan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah) kepada seluruh umat
manusia.
Kita ditakdirkan hidup dalam
lingkungan masyarakat majemuk, baik dari segi agama, suku, bahasa dan budaya,
maupun paham keagamaan. Terhadap sesama manusia kita perlu tumbuhkan
solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah), terhadap sesama muslim perlu kita
kembangkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), dan terhadap sesama
bangsa kita rajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).
Pengejawantahan dari ketiga nilai
ini merupakan bentuk kemabruran sosial yang perlu dipelopori oleh para hujjaj
setibanya di Tanah Air. Dengan spirit persaudaraan itu para hujjaj diharapkan
dapat berapa pada garda terdepan dalam merajut kebersamaan yang akan
membawa masyarakat mampu mengembangkan kerjasama dalam membangun kehidupan
bersama yang maju dan berkeadaban.
Semoga segenap jemaah haji Indonesia
akan memperoleh haji mabrur sejati, yakni dapat meraih pahala dan ridha Allah
Swt dari keikhlasan dan ketekunan beribadat di Tanah Suci, dan mampu untuk
mewujudkan nilai-nilai kemabruran dalam kehidupan bersama nanti di Tanah Air.
Pada kesempatan berharga dan di
tempat yang mustajabah Arafah, jemaah dituntut peduli dan mendoakan Indonesia
yang sedang tertimpa musibah lesunya perekonomian dan berbagai cobaan lainnya.
Semoga Allah Swt mengampuni dosa kita semua dan menjadikan kita sebagai bangsa
yang mampu mewujudkan cita-cita luhurnya, baldatun thoyyibatun wa robbun
ghofur. (ar/ar)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar