Jakarta (WarkopPublik)--Perekonomian Indonesia mengalami masa sulit pada 2015 akibat kelesuan ekonomi global, nilai tukar rupiah merosot, dan harga minyak turun tajam. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 diperkirakan hanya 4 persen, turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar 5 persen.
Kondisi ekonomi yang jeblok membuat beberapa sektor ekonomi terpuruk. Namun, tak semuanya jeblok, ada pula beberapa sektor ekonomi yang tetap tumbuh signifikan. Merosotnya harga minyak justru membuat beberapa sektor yang biaya produksinya dipengaruhi harga minyak, mencatatkan peningkatan kinerja. Begitu pula sektor-sektor yang mengandalkan ekspor, pelemahan rupiah justru menguntungkan.
Kinerja sektor-sektor ekonomi tersebut tercermin dari nilai pinjaman atau kredit yang mereka ajukan ke bank. Jika kredit meningkat signifikan, sektor tersebut tentu sedang tumbuh sehingga membutuhkan pinjaman bank, baik untuk menambah investasi ataupun modal kerja untuk biaya operasional.
Inilah sektor-sektor ekonomi yang tumbuh sepanjang 2015 berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada 29 Januari 2016:
1. Sektor pembangkit listrik: outstanding kredit pada akhir 2015 tumbuh 20 persen dibandingkan akhir tahun 2014
2. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, tumbuh 23 persen
3. Sektor konstruksi, kredit tumbuh 17,6 persen
4. Sektor industri pengolahan, tumbuh 14,3 persen
5. Sektor perdagangan, tumbuh 11 persen
Adapun sektor-sektor yang terpuruk, terindikasi dari anjloknya permintaan kredit atau melambatnya pertumbuhan kredit adalah:
1. Sektor pertambangan, pertumbuhan kreditnya minus 8 persen
2. Sektor jasa, minus 1,4 persen
3. Sektor keuangan, hanya tumbuh 4 persen
4. Sektor transportasi, hanya tumbuh 4 persen
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Srihartati pekan lalu, Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak sumber daya alam bisa mengambil kesempatan dari murahnya harga energi. (kompas/ar)
Kondisi ekonomi yang jeblok membuat beberapa sektor ekonomi terpuruk. Namun, tak semuanya jeblok, ada pula beberapa sektor ekonomi yang tetap tumbuh signifikan. Merosotnya harga minyak justru membuat beberapa sektor yang biaya produksinya dipengaruhi harga minyak, mencatatkan peningkatan kinerja. Begitu pula sektor-sektor yang mengandalkan ekspor, pelemahan rupiah justru menguntungkan.
Kinerja sektor-sektor ekonomi tersebut tercermin dari nilai pinjaman atau kredit yang mereka ajukan ke bank. Jika kredit meningkat signifikan, sektor tersebut tentu sedang tumbuh sehingga membutuhkan pinjaman bank, baik untuk menambah investasi ataupun modal kerja untuk biaya operasional.
Inilah sektor-sektor ekonomi yang tumbuh sepanjang 2015 berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada 29 Januari 2016:
1. Sektor pembangkit listrik: outstanding kredit pada akhir 2015 tumbuh 20 persen dibandingkan akhir tahun 2014
2. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, tumbuh 23 persen
3. Sektor konstruksi, kredit tumbuh 17,6 persen
4. Sektor industri pengolahan, tumbuh 14,3 persen
5. Sektor perdagangan, tumbuh 11 persen
Adapun sektor-sektor yang terpuruk, terindikasi dari anjloknya permintaan kredit atau melambatnya pertumbuhan kredit adalah:
1. Sektor pertambangan, pertumbuhan kreditnya minus 8 persen
2. Sektor jasa, minus 1,4 persen
3. Sektor keuangan, hanya tumbuh 4 persen
4. Sektor transportasi, hanya tumbuh 4 persen
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Srihartati pekan lalu, Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak sumber daya alam bisa mengambil kesempatan dari murahnya harga energi. (kompas/ar)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar